Pengunjung

KETIKA MENCINTAI SEPENUH HATI HANYA TERBALAS SETENGAH HATI

Luka sederhana namun membekas sepanjang masa adalah ketika mencintai sepenuh hati terbalas dicintai setengah hati

Setelah sekian lama berjuang, dari yang sedekat pelukan hingga sejauh rembulan. Kini aku akhirnya menyerah pada semesta yang tak merestui hubungan kita.

Walau hati serasa tertusuk jarum panas berbalut api, aku tetap setia mencintaimu walau kini kau sudah memilih bersamanya. Sumpah ku menjadikan mu yang terakhir adalah janji suci yang tak akan mungkin ku langgar kepada yang maha kuasa. Terima kasih telah mematahkan kedua sayap ku, hingga aku tak bisa terbang mencari bintang yang lain lagi.

Dulu ketika kita berdua sedang berjuang, kita pernah saling menguatkan untuk tidak mundur walau sejengkal. Namun kenyataan pahit itu telah membuka tabir baru yang menyakitkan, bahwa aku harus mundur karena dinding cinta yang dulu pernah kita bangun kau robohkan dengan tanganmu sendiri. Aku tak pernah memilih untuk mundur, hanya saja kesetiaan yang telah kau rusak membuat hatiku menjadi ambruk tak berkeping.

Maka inilah yang terjadi saat ini. Ketika diriku menelan pil cinta dengan dosis yang berlebihan, maka rasa sakitnya pun tak pernah berkesudahan. Ingin dimuntahkan namun sakit, Ingin ditelan namun panas.

Jika diingat dahulu ketika kau rebah seraya memeluk tubuhku kau mengatakan janji untuk setia terhadap hati yang satu. Kau juga pernah mengubar janji pada gelapnya langit yang dipenuhi kemerlap bintang- bintang, bahwa aku adalah satu-satunya pria yang ada di hatimu. Namun ternyata kau menghianati senja yang pernah menghapus air mata mu disaat kau berjuang untuk memiliki ku.

Dan itulah cinta, disaat aku memberikan tiga perempat dari kepingan hatiku, kau hanya membalas dengan memberikan satu perempat dari kepingan hatimu. Sisanya kau berikan kepada pria lain. Lelaki itu manusia kuat, namun lemah dan lemas ketika diterpa angin pengkhianat cinta.

Ingin rasanya memaafkan mu, Ingin ku tahan kaki ku untuk tak mundur. Namun bekas luka tusuk dusta telah membuatku hilang rasa untuk membangun kembali tembok cinta kita. Pengkhianat cinta adalah dosa terbesar yang tak akan pernah dimaafkan oleh pria.

Saat mata telah melihat sendiri dirimu telah mendua, hatiku benar-benar tak berdaya. Hati berdenyut namun seolah tak bernyawa. Rasanya seperti terkompres air es yang teramat dingin, kemudian dipanggang dalam letupan api yang berbahan bakar batu bara. Lidah sudah tak mampu merangkai kata untuk menceritakan betapa sakitnya dikhianati.

Disaat tubuhku telah lemah dan tergolek lemas karena dikhianati cinta, Tuhan dengan senyuman indah memeluk tubuhku yang hampir menghujam lantai. Tuhan bahkan tak merasa marah sekali terhadap ku. Padahal selama ini cintaku kepadanya terbagi terhadap salah satu makhluknya yang fana. Ketika rasa cintaku mengalahkan rasa cintaku kepada-NYA, Tuhan berbaik hati menopang ku yang sedang lebam di rundung pilu pengkhianatan.

Kau kembali lagi disaat diriku telah memutuskan untuk mundur. Sayangnya, aku sudah mulai berpikir bahwa yang mengejar belum tentu sungguh-sungguh untuk memulai kembali sesuatu yang telah luka.

Lantas aku memilih berlari sejauh mungkin, mundur dalam keadaan kalah sekalah-kalahnya. Aku mundur, kalah bertarung mempertahankan mu karena engkau yang tengah lelah ku pertahankan memilih untuk membagi cinta. Maaf aku harus meninggalkan karena tak kuasa menerima cinta yang terbagi. Maka aku mundur dengan tertatih, membawa semua duka yang tak tahu kapan akan hilang.

Tak masalah jika kita harus berpisah. Pada akhirnya, kau telah membuatku merasakan yang namanya perjuangan. Setidaknya kini aku tersadar bahwa tiap-tiap kesalahan yang telah ku perbuat, bukan orang lain yang akan bertanggung jawab. Namun diriku lah yang harus membayarnya kembali dengan lebih dekat dan lebih lama lagi bersujud kepada yang Maha Kuasa.

Takdir terkadang menampar dengan cara yang tak biasa. Tanpa basa-basi menampar siapapun yang ada dihadapannya. Pada waktu itu, nyatanya aku tidak takut untuk jatuh cinta. Yang kutakuti adalah orang yang telah kucinta dengan penuh, ternyata mencintaiku dengan separuh.

Ada banyak pelajaran dari luka, sama seperti waktu pertama kali kaki berjalan menelusuri tanah. Lutut terkadang memar bercumbu dengan tanah. Darah tak jarang menjadi teman yang mengiringi air mata dikala sakit karena terjatuh. Namun dari sana akhirnya kita belajar artinya sebuah berjalan. Hingga akhirnya kita sudah mampu berlari sekencang-kencangnya.

Begitu juga halnya dengan pengkhianat. Mungkin Tuhan telah berusaha menyapa ku dengan cara yang berbeda dari cara yang biasanya. Tuhan rindu dengan diriku yang dulu jarang tersenyum dan menyapa-NYA dalam sujud yang khusuk. Tuhan mungkin pernah cemburu saat diriku benar-benar jarang mencumbui-NYA dalam sujud yang suci.

Kini akhirnya aku baru tersadar bahwa. Seharusnya dalam setiap do'a yang kubisikan kepada Tuhan di malam hari bukanlah agar aku diberi kemudahan dalam menghadapi setiap masalah. Namun seharusnya aku meminta diberi pundak yang kuat agar kuat menghadapi berbagai cobaan berat yang benar-benar menguras isi hati yang paling dalam.

Kini aku harus belajar untuk mengikhlaskan. Berdamai dengan masa lalu dengan cara terbaik untuk memulai hari yang baru. Setidaknya dulu aku pernah benar-benar berjuang untuk mencintai dirinya, walau akhir cerita aku harus berakhir dengan air mata.

Terima kasih selama ini telah memberi warna dalam hidupku. Selama ini aku menjaga mu untuk akhirnya menjadi milik orang lain. Selama ini mencintaimu sedalam palung samudera, kini aku mundur setelah kalah bertarung melawan pengkhianat. Luka sederhana namun membekas sepanjang masa adalah ketika mencintai sepenuh hati terbalas dicintai setengah hati.

0 komentar: