Hal inilah yang akhirnya menjadi penyebab sikapku semakin dingin pada setiap makhluk Tuhan yang bergender Wanita. Tak pernah sekalipun mencoba akrab walaupun hanya sebatas sebagai teman biasa. Karena sudah kujaga dan kututup rapat hati agar tidak ada lagi sosok wanita yang akan kembali mengisi ruang hati ini.
Itu dulu, sekarang Tuhan berkehendak lain. Pintu yang sudah lama kututup itu, kini di buka NYA kembali dengan "kunci" yang baru. Sebagai Makhluk ciptaanNya aku tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali hanya menerima segala kehendak Yang Maha Kuasa.
Sebelumnya memang tak ada perasaan apapun saat pertama kali jumpa dengan Gadis itu. Namun seiring waktu berjalan, detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan pun tak mau ketinggalan turut berganti pula.
Perasaan yang awalnya biasa-biasa saja tersebut, akhirnya berubah menjadi perasaaan yang berbeda. Perasaan yang telah lama tidak ingin kurasakan lagi, perasaan yang sejatinya ingin benar-benar Aku lupakan, karena ketakutanku mengulangi luka yang sama untuk kali kedua.
Tapi apa mau dikata? sekali lagi kehendak Tuhan nyatanya tak mampu Aku tolak. Semua itu datang secara alami yang tanpa sadar menyusup kerelung hati. Apakah Aku sedang jatuh cinta? bisa saja Ya, karena perasaan ini rasanya tidak asing lagi, indikasinya hampir mirip seperti yang pernah aku alami pada masa lalu. Masa-masa yang pernah membuat hidupku terasa berarti.
Benar memang kata pepatah,
"cinta dari mata turun kehati".
Itu mungkin yang sedang Aku alami, berawal dari saling tatap mata yang tak disengaja, yang berulang beberapa kali dalam beberapa momen pula. Puncak dari proses alamiah itu terjadi saat Kami berpapasan di gang sempit sebuah pasar.
Pertemuan tersebut membuatku benar benar terkejut, terkejut karena Ia muncul tiba-tiba dari lorong gang sempit itu, hingga satu kata keluar dari mulutku ini dengan nada pelan
"Astaghfirullah".
Kalimat itu meluncur begitu saja dari liadahku tanpa kendali. Ternyata lidahku ini tahu kapan harus mengumpat dan kapan harus beristighfar. Lidah yang bisa membedakan mana pria dan mana wanita. Aneh memang, tapi inilah yang terjadi. Sejak saat itu perasaan biasa menjadi aneh pada momen pertemuan berikutnya.
Sekarang Aku sadar bahwa mungkin saja Aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta untuk kali kedua setelah sekira setengah dasawarsa lamanya berusaha agar tidak lagi ada perasaan yang serupa.
Meskipun Aku sadari itu, tapi aku tak bisa dan tak ingin berbuat apa-apa.
Aku tak mau melakukan apapun untuk mengejar atau setidaknya mengungkapkan perasaan itu kepada gadis yang telah membuka paksa gembok pintu hati yang telah lama tertutup rapat,dan kuncinya pun telah ku buang jauh-jauh ini.
Aku pun berani mengambil kesimpulan bahwa aku jatuh cinta kepada orang yang salah. Salah karena memang tak seharusnya itu terjadi, ia terlalu istimewa bagiku. Tapi apalah daya, cinta tak bisa memilih kepada siapa, ia datang begitu saja, di usir sekuat tenaga pun Ia tetap enggan meninggalkan hati tempat bersinggahnya.
Sempat berfikir tak sampai hati membawanya masuk keduniaku. Kalaupun Ia mau, aku tak yakin juga Ia akan mampu bertahan dalam bahtera hidupku. Lalu di kemudian hari meninggalkanku dengan kekecewaan yang pasti akan membuat hatiku bisa saja tertutup kembali. Sudah cukup bagiku merasakan hal yang sempat ku alami lima tahun nan silam.
Sering kali Ia ku lihat berjalan dari kejauhan dan terkadang dengan sengaja aku mengintipnya dari dalam tokoku kearah tokonya agar dapat melihat dirinya. Aku sengaja segera memalingkan muka bila tanpa sengaja bertatap muka dengannya, agar tak semakin dalam perasaan ini memendam raut wajah Gadis itu. Ya...meski mata hati tak bisa kupalingkan darinya.
Sebelumnya Aku memang sempat berharap kepada Tuhan agar Gadis yang berhasil meluluh lantakkan dinding keegoisan dan keangkuhanku ini, suatu saat akan menjadi pasangan yang akan menemani sepanjang sisa-sisa hidup yang ku jalani.
"Sekuat Apapun Pintu Ini Aku Tutup,
Jika Tuhan Berkehendak Membukanya dengan Kunci yang Baru,
Aku Bisa Apa?
Ingin sekali mengucapkan ribuan terima kasih kepadanya. Karena kehadirannya telah mampu membuka pintu hati yang telah lama tertutup rapat ini. Itu artinya Aku sekarang tahu bahwa Aku masih normal sebagai manusia bergender Pria.
Pria normal yang masih memiliki rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Tidak seperti yang kutakutkan sebelumnya, yang tidak ada respon sedikitpun jika harus dekat atau didekati kaum Hawa.
Terima Kasihku Untukmu Yang Telah Menghadirkan Cinta di Hatiku.
"Tak banyak yang aku harapkan,hanya saja izinkan aku untuk mencintaimu dengan caraku.
Kutorehkan tulisan ini,
sekedar mencoba untuk melepaskan beratnya beban otakku yang tak kenal cuti untuk memikirkanmu,
Maafkan aku yang telah lancang mencintaimu!"

