Pengunjung

Untukmu yang Telah Memaksaku Membuka Pintu Hatiku

0 komentar
Iima tahun berlalu tak terasa, rentan waktu yang bagiku sangat singkat tersebut tidak memberi kesan apapun dalam kehidupanku. Dalam hal ini yang berkaitan dengan percintaan. Jujur sejak saat itu, saat dimana hatiku patah sepatah-patahnya, membuat hatiku benar-benar tertutup rapat dengan cinta baru. Bahkan tidak sedikitpun keinginan untuk membuka lembaran kisah kasih yang selama ini membuatku risih.

Hal inilah yang akhirnya menjadi penyebab sikapku semakin dingin pada setiap makhluk Tuhan yang bergender Wanita. Tak pernah sekalipun mencoba akrab walaupun hanya sebatas sebagai teman biasa. Karena sudah kujaga dan kututup rapat hati agar tidak ada lagi sosok wanita yang akan kembali mengisi ruang hati ini.

Itu dulu, sekarang Tuhan berkehendak lain. Pintu yang sudah lama kututup itu, kini di buka NYA kembali dengan "kunci" yang baru. Sebagai Makhluk ciptaanNya aku tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali hanya menerima segala kehendak Yang Maha Kuasa.

Sebelumnya memang tak ada perasaan apapun saat pertama kali jumpa dengan Gadis itu. Namun seiring waktu berjalan, detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan pun tak mau ketinggalan turut berganti pula.

Perasaan yang awalnya biasa-biasa saja tersebut, akhirnya berubah menjadi perasaaan yang berbeda. Perasaan yang telah lama tidak ingin kurasakan lagi, perasaan yang sejatinya ingin benar-benar Aku lupakan, karena ketakutanku mengulangi luka yang sama untuk kali kedua.

Tapi apa mau dikata? sekali lagi kehendak Tuhan nyatanya tak mampu Aku tolak. Semua itu datang secara alami yang tanpa sadar menyusup kerelung hati. Apakah Aku sedang jatuh cinta? bisa saja Ya, karena perasaan ini rasanya tidak asing lagi, indikasinya hampir mirip seperti yang pernah aku alami pada masa lalu. Masa-masa yang pernah membuat hidupku terasa berarti.

Benar memang kata pepatah, 
"cinta dari mata turun kehati".
Itu mungkin yang sedang Aku alami, berawal dari saling tatap mata yang tak disengaja, yang berulang beberapa kali dalam beberapa momen pula. Puncak dari proses alamiah itu terjadi saat Kami berpapasan di gang sempit sebuah pasar.

Pertemuan tersebut membuatku benar benar terkejut, terkejut karena Ia muncul tiba-tiba dari lorong gang sempit itu, hingga satu kata keluar dari mulutku ini dengan nada pelan

"Astaghfirullah".

Kalimat itu meluncur begitu saja dari liadahku tanpa kendali. Ternyata lidahku ini tahu kapan harus mengumpat dan kapan harus beristighfar. Lidah yang bisa membedakan mana pria dan mana wanita. Aneh memang, tapi inilah yang terjadi. Sejak saat itu perasaan biasa menjadi aneh pada momen pertemuan berikutnya.

Sekarang Aku sadar bahwa mungkin saja Aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta untuk kali kedua setelah sekira setengah dasawarsa lamanya berusaha agar tidak lagi ada perasaan yang serupa.

Meskipun Aku sadari itu, tapi aku tak bisa dan tak ingin berbuat apa-apa.
Aku tak mau melakukan apapun untuk mengejar atau setidaknya mengungkapkan perasaan itu kepada gadis yang telah membuka paksa gembok pintu hati yang telah lama tertutup rapat,dan kuncinya pun telah ku buang jauh-jauh ini.

Aku pun berani mengambil kesimpulan bahwa aku jatuh cinta kepada orang yang salah. Salah karena memang tak seharusnya itu terjadi, ia terlalu istimewa bagiku. Tapi apalah daya, cinta tak bisa memilih kepada siapa, ia datang begitu saja, di usir sekuat tenaga pun Ia tetap enggan meninggalkan hati tempat bersinggahnya.

Sempat berfikir tak sampai hati membawanya masuk keduniaku. Kalaupun Ia mau, aku tak yakin juga Ia akan mampu bertahan dalam bahtera hidupku. Lalu di kemudian hari meninggalkanku dengan kekecewaan yang pasti akan membuat hatiku bisa saja tertutup kembali. Sudah cukup bagiku merasakan hal yang sempat ku alami lima tahun nan silam.

Sering kali Ia ku lihat berjalan dari kejauhan dan terkadang dengan sengaja aku mengintipnya dari dalam tokoku kearah tokonya agar dapat melihat dirinya. Aku sengaja segera memalingkan muka bila tanpa sengaja bertatap muka dengannya, agar tak semakin dalam perasaan ini memendam raut wajah Gadis itu. Ya...meski mata hati tak bisa kupalingkan darinya. 

Sebelumnya Aku memang sempat berharap kepada Tuhan agar Gadis yang berhasil meluluh lantakkan dinding keegoisan dan keangkuhanku ini, suatu saat akan menjadi pasangan yang akan menemani sepanjang sisa-sisa hidup yang ku jalani.

"Sekuat Apapun Pintu Ini Aku Tutup,

Jika Tuhan Berkehendak Membukanya dengan Kunci yang Baru,
Aku Bisa Apa?

Ingin sekali mengucapkan ribuan terima kasih kepadanya. Karena kehadirannya telah mampu membuka pintu hati yang telah lama tertutup rapat ini. Itu artinya Aku sekarang tahu bahwa Aku masih normal sebagai manusia bergender Pria.

Pria normal yang masih memiliki rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Tidak seperti yang kutakutkan sebelumnya, yang tidak ada respon sedikitpun jika harus dekat atau didekati kaum Hawa.

Terima Kasihku Untukmu Yang Telah Menghadirkan Cinta di Hatiku.

"Tak banyak yang aku harapkan,hanya saja izinkan aku untuk mencintaimu dengan caraku.

Kutorehkan tulisan ini,

sekedar mencoba untuk melepaskan beratnya beban otakku yang tak kenal cuti untuk memikirkanmu,

Maafkan aku yang telah lancang mencintaimu!"

Maafkan

0 komentar
Tak hanya dirimu yang diselimuti perasaan sedih, sakit dan juga kecewa. Perasaan sedih, sakit, dan juga lelah itu telah kunikmati setiap harinya. Terlebih lagi, ketika aku harus berpura-pura menutup mata dan telinga melihatnya bercanda tawa dengan yang lainnya. Dan harus Berpura-pura menganggap semuanya seakan baik-baik saja. Sungguh sakit rasanya menjalani ini semua sendirian. Sungguh aku lelah seperti ini dan aku bosan dengan rasa sepi yang menyelimuti diri ini.

Sempat terpikir dalam benakku
"Bolehkah sedikit saja aku meninggikan egoku?"

Sontak hati berkata dengan lantangnya
"Buat apa? Kalau kau hanya ingin membuat hatinya terluka dan bersalah, jika kau kokoh untuk meninggikan egomu. Dan juga karena egomu akan menimbulkan suatu masalah baru yang membuat dirimu dan dirinya akan mengalami kehancuran yang sama."

Dalam sedih, sakit dan terluka diri ini sejenak termenung. Seraya berpikir untuk membuang semua egonya. Karena diri ini tak ingin melihat orang yang dia sayangi merasa terluka dan bersalah hanya dengan mementingkan egonya.

Maafkanlah diri ini, karena sempat membuat hatimu terluka. Dan maaf juga karena sempat terpikir untuk meninggikan ego.
Sekali lagi maaf karena diri ini masih dalam proses menjadi yang lebih baik lagi.


Untukmu yang Namanya Selalu Kusebut Dalam Doa – Aku Ingin Bersamamu Sampai Surga

1 komentar
Hey hey...
Jumpa lagi, semoga hari-hari kita selalu diberkati oleh yang kuasa. Dan semoga hari-hari kita menyenangkan.
Ya sekarang kita membahas tenyang "Cinta" ya meski tak setiap orang mempercayai kata-kata itu, dan mungkin gua juga udah lupa akan perasaan tentang itu :D
Judulnya sesuatu ya tapi ini hanyalah cerita tentang seorang lelaki kulot yang baru hanya beberapa kali mengecap tentang hal ini.
So enjoy...


Katanya, semua manusia baik itu pasti nantinya pergi ke surga. Karena belum pernah menjamahnya, wajar jika aku tak punya gambaran nyata tentang surga. Yang kutahu bahwa setelah jatuh cinta denganmu dunia ini sedang indah-indahnya, dan mungkin sama levelnya dengan keindahan nirwana.

Kusadari bahwa memang manusia tak akan lama-lama menghela udara di bumi, pada akhirnya kita semua pasti mati. Seberapa pun aku dan kamu saling mencintai, kita pasti akan terpisah nanti. Tapi jika kelak saatnya tiba, mungkinkah kau dan aku bisa bertemu lagi di surga?

"Karena Surga pastilah jadi sempurna jika kutemukan kau disana"


Aku tak pernah percaya bahwa cinta benar-benar ada, sampai suatu hari aku menemukanmu yang sanggup membuatku jatuh cinta dan tergila-gila.

Sebelum bertemu denganmu aku tak tahu apa itu cinta. Yang aku kenal hanya sebatas suka dan memuja. Aku suka pada teman sekelasku karena dia anak rajin dan cukup rupawan, aku juga memuja aktor yang sering berlaga di layar kaca. Ah, mungkin aku juga pernah mencecap cinta ala anak remaja satu-dua kali, namun tentu hanya dengan takaran yang tak seberapa. Karena yang kurasa begitu cepat, bahagia dan berbunga yang kemudian berganti dengan tangis karena jalinannya yang terurai dengan begitu mudah. Lucu rasanya, karena sekarang aku sudah lupa bahwa rasa itu pernah ada.


Namun, yang kurasakan denganmu sungguh berbeda. Setiap ada kehadiranmu, napasku pasti sesak tak karuan. Ketuk jantung ini juga bergerak lebih lincah dari biasanya. Kerongkonganku pun dengan tiba-tiba memiliki sumbatannya, yang kemudian disusul dengan kelunya lidah yang tak bisa menyusun frasa dengan benar setiap kamu ada. Namun, tahukah kamu, perpaduan rasa aneh sekaligus nikmat ini ingin kukecap lagi dan lagi.

"Aku rasa aku mulai gila dengan perasaan ini, dan aku pun tak menghiraukan kata orang yang menganggapku seperti itu."
toh yang ngerasain kan gua bukan mereka

Jalinan hubungan denganmu juga kupikir hanya akan sementara. Karena aku tahu, aku dan kamu punya ego yang sama besarnya di kepala.

Dulu, aku tak berani berharap banyak dengan hubungan kita berdua. Mampu menjalin cerita denganmu saja sudah membuatku bahagia luar biasa serta tak hentinya merapal syukur dalam-dalam. Namun, setelah menjalani hubungan beberapa waktu lamanya, aku mulai menyadari bahwa kita punya banyak beda di sana-sini. Bahkan, porsi ego yang memenuhi kepala juga hampir sama ukurannya.


Sungguh, Aku dan kamu yang dibelenggu ego sendiri justru ingin menghancurkan hubungan ini. Hingga akhirnya kita sama-sama lelah dan tak ingin bertemu karena ingin berhenti saling menyakiti. Namun, kita jadi menyadari bahwa hati ini memiliki lubang baru yang lebih menyakitkan diri jika kita tak bersama.

"Meski punya ego yang sama-sama tinggi, aku sadar bahwa aku dan kamu memang tak bisa lama-lama saling menyakiti."

Kamu adalah sosok yang tegar dan bisa diajak berbagi beban. Menghabiskan hidup bersamamu kini jadi mimpi yang ingin kuwujudkan.

Walau diisi dengan saling tengkar toh dalam hati kita tetap ingin saling lekat. Aku dan kamu tetap tak lelah untuk saling mengisi hari supaya rekatan hubungan ini segera pulih. Aku juga jadi memahami bahwa kamu merupakan pribadi yang tegar dan tak menyerah kalah pada keadaan. Di jatuh bangun perjuangan, kamu sedia untuk bisa bangkit dengan tatapan tetap ke depan.


Pun saat beban hidup datang tanpa jeda, kamu tetap tak mudah menuturkan keluhan. Selalu ada hal baik yang bisa kamu lihat dan jadikan pegangan. Jika cobaan hidup yang singgah saja bisa kamu gubah menjadi berkah, apalagi ketika kita sedang merasakan bahagia – pastilah berkali lipat nikmatnya. Sungguh, aku tak hanya terpesona pada parasmu, aku juga menggilai karaktermu yang benar-benar istimewa sebagai seorang manusia.

"Pikirku Kamu memanglah manusia sempurna untuk diajak menghabiskan waktu bersama. Tak salah jika pada akhirnya aku selipkan namamu dalam setiap do'a."

Hubungan kita memang layak diperjuangkan. Tak sekadar modal cinta, aku dan kamu pun harus tahan menghadapi berbagai cobaan.

Aku dan kamu sudah berkali-kali digilas kerasnya dunia dan keadaan. Namun, kita tetap menautkan tangan untuk saling membantu jika ada salah satu yang jatuh terperosok dalam. Pun kita ada untuk saling menangkap jika salah satu tumbang diterpa badai permasalahan. Sungguh, tak ada kamu aku bagai pengelana yang tak memiliki alat penunjuk arah, mudah tersesat dan bisa jatuh ke dalam jurang.

Menjalin hubungan denganmu, aku tak hanya mengecap manis dunia saja. Namun saat kepahitan dunia bertandang, kamu juga tak lantas pergi berjingkat meninggalkan. Saat hati dan raga ini begitu lelah, kamu bersedia kujadikan sandaran. Membuat energiku penuh terisi sehingga siap menghadapi hari, sekali lagi.

"Sungguh, memang tepat rasanya jika aku selalu menambahkan namamu di setiap doa yang kupanjatkan."

Kamu adalah anugerah terindah yang memberiku bahagia di dunia. Tak cukup hidup bersama, aku berharap kelak mendampingimu sampai surga.


Tidak, aku tidak hanya ingin menua bersamamu. Menapaki usia senja hingga kepala tujuh atau delapan rasanya tak seberapa lama untuk kita habiskan berdua. Menyaksikan anak cucu bermain bersama di rumah sepetak yang tak terlalu besar ruangannya atau menyesap teh berdua sambil menikmati pemandangan adalah kenikmatan tak terkira. Namun, aku ingin lebih dari itu. Yang berkecamuk di dadaku bukan hanya cinta. Entah apa namanya, karena yang pasti kata ‘cinta’ saja tak cukup untuk menggambarkannya.

Tak apa jika nanti kita dipisahkan sejenak oleh maut di usia senja. Namun, sungguh-sungguh aku berharap kelak kita bisa bersama lagi di surga. Jadi mari menabung sebanyak-banyaknya kebaikan di dunia sehingga surga untuk aku dan kamu bukan sekadar harapan belaka.

Dan semoga harapan ini tak menjadi bualan semata yang di mimpi-mimpikan oleh lelaki kolot sepertiku, dan kuharap kau tau tentang semua ini. Dari orang yang selalu menyebut namamu disetiap do'anya.

Putih abu-abu

0 komentar
Hai, kawan-kawanku, masihkah kalian mengingat petikan lirik lagu ini? Ya, tembang lawas dari Sheila on 7 yang sempat menjadi iringan di hari perpisahan yang kita buat bersama beberapa tahun silam. Lagu itu juga merupakan obat ketika kenangan akan kalian tiba-tiba melintas di dalam kepalaku dan membuat dadaku terasa sesak dihimpit rindu.


Tahukah kalian, saat ini aku sedang mendengarkan lagu kita sembari menulis surat untuk kalian. Semoga setelah membaca surat dariku ini kalian juga berpikiran sama, ingin meluangkan waktu sejenak untuk bersua demi mengenang kembali kisah klasik kita di masa putih abu-abu.

Sejak kali pertama kita bertemu dan menjalin persahabatan, cerita seru tak pernah alpa terdengar


Ingatkah kalian saat hari pertama kita mengenakan seragam putih abu-abu? Kita yang dulunya mengenakan seragam putih biru dengan label berbeda sekarang mengenakan baju yang serupa. Ya, saat itu kita girang bukan kepalang dan tak henti-hentinya mematut diri di depan kaca. Kita merasa sudah dewasa dan siap menyambut cerita seperti di layar kaya dengan seragam kebanggaan.

Pertemuan pertama kita memang diisi dengan kecanggungan. Kita yang masih murid baru terlihat amat lugu. Lidah ini terasa kelu sehingga hanya mampu melontarkan kata halo yang tidak dibumbui dengan basa-basi. Berawal dari menjadi teman satu kelompok pembekalan murid baru hingga menjadi teman sekelas membuat pertemana kita kian akrab.

Kedekatan pun berlanjut ketika kita berada di kelas yang sama dan memilih bangku yang berdekatan. Kita berbagi cerita dan menertawakan apa saja. Dari sudut kelas, perpustakaan, kantin sekolah, lapangan, hingga aula merupakan saksi bisu kita pernah berbagi cerita hingga rahasia. Selayaknya remaja pada umumnya, kisah kita dipenuhi dengan tawa dan canda, air mata hanya datang menyapa di kala kita putus cinta.

Ingatkah kalian pada kebodohan yang kerap kita lakukan, dan pelanggaran kecil yang iseng dijalankan demi sedikit kesenangan?

Gelegak darah muda memang sedang deras-derasnya mengalir di dalam pembuluh vena. Kita dipenuhi dengan rasa ingin tahu dan mencoba-coba. Ya, kita lebih senang tak patuh pada aturan karena menganggapnya nampak keren karena berlawanan. Tidak jarang ada beberapa dari kita yang harus bermain kucing-kucingan karena mengenakan seragam yang tak sesuai aturan atau karena memiliki rambut kepanjangan dan tidak berwarna hitam.


Aku juga ingat betapa kita girang bukan kepalang sewaktu ada jam pelajaran kosong karena guru yang tak bisa datang. Kita akan memanfaatkannya dengan bermain gitar dan memenuhi udara kelas dengan suara-suara sumbang, atau memilih tidur siang dengan beralaskan kertas ulangan, dan ada pula dari kita yang  lebih gemar kabur ke kantin belakang.

Tidak, tidak hanya itu saja, masih banyak kebodohan dan kenakalan yang kita perbuat demi membuat hari kita kian seru dan berwarna. Aku ingat betapa kita nampak kompak dan bahu-membahu saat menyalin PR pada pukul enam maupun bertukar jawaban saat ujian. Sungguh petualangan yang selalu membuat jantung kita berdetak beberapa ketuk lebih cepat tiap kali kita melakukannya. Bahkan ingatkah kalian saat satu dua kali menjahili guru baru atau mahasiswa yang sedang praktik mengajar? Membuat wajah mereka memerah seperti tomat kematangan sehingga mampu membuat kita tersenyum kegirangan.

Walaupun persahabatan kita pernah berjarak, toh kita selalu menemui jalan pulang untuk kembali menjadi sahabat lekat

Memang segala yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, begitu pula persahabatan kita. Beberapa kali kita pernah saling mendiamkan dan tak bertukar sapa. Hanya dipicu dengan masalah sederhana mampu membuat kita lebih memilih untuk berpunggung-punggungan.

Meski tentu saja hal itu tak berlangsung lama, karena harus kuakui bahwa aku selalu tak sanggup menjalani hari tanpa kalian. Bagai sayur tanpa bumbu penguat rasa seperti itulah hidupku ketika tidak ada kalian, hambar rasanya. Kalian pun nampaknya juga sama, karena kemudian kita dengan cepat berbaikan dan semuanya baik-baik saja seperti sedia kala.

Maukah kalian meluangkan waktu untuk bertemu lagi dan mengulang keseruan itu? Agar aku bisa menyegarkan ingatanku untuk cerita yang akan kusampaikan kepada anak-cucu.

Terimakasih kuucapkan pada kalian yang telah hadir di dalam hidupku, memenuhi masa mudaku dengan cerita-cerita seru yang mampu mengukir senyum di wajahku hingga detik ini. Maukah kalian menyempatkan waktu supaya kita bisa duduk bersama berbagi cerita? Jika dipikir ulang, betapa lucunya kita, dulu kita selalu rajin berdoa untuk segera meninggalkan masa itu namun sekarang kita mendamba untuk kembali ke masa putih abu-abu.

And than galau lagi

0 komentar

Sudah takdir kita, untuk berjuang hingga habis daya. Karena menyerah begitu saja adalah hal yang keterlaluan mudahnya.

Sungguh, aku lelah jika harus mengurai jalinan ini dan harus menambatkannya ke dermaga yang lainnya. Aku tak sanggup lagi jika harus mencari penggantimu dan memulai hubungan cinta yang baru. Sungguh kita tak boleh lelah berusaha. Kita tak boleh memilih menyerah, karena itu sungguh terlalu mudah.
Jika saat ini kamu begitu dibelit jengah dan ingin beristirahat sejenak, tentu tidak masalah. Kamu boleh mengambil sebanyak apapun waktu yang kamu butuhkan. Aku akan sabar menunggu sembari terus menerus membisikkan harapanku. Dan semoga angin menyampaikan pesanku.

Oh hai hai...

0 komentar
Lama tak menuangkan perihal yang dirasakan disini...

Lama juga tak jumpa buat sharing-sharing pengalaman :😊☺

Gua balik lagi buat menenangkan sejanak hati dan otak disini...
Sorry postingan pertama lansung ngegalau ya gimana lagi, udah sesak ini dada buat nyurahin segenap yang dirasakan yang akhirnya tertumpah dipostingan pertama 😅
Ya cuma disini rasanya gua bisa nyurahin segala yang terasa untuk saat ini...

Sekian dah, mohon maaf dan sampai ketemu lagi dicurahan selanjutnya 😁😂🙋

Surat Untuk Diriku Sendiri yang Sedang Berusaha Memperbaiki Diri

0 komentar
Halo, diriku..
Apa kabarmu saat ini?
Apakah kamu masih sosok yang sama?
Sosok berkepala batu dengan ego yang selalu memenuhi udara?
Semoga saja tidak lagi.

Hai, ini aku, dirimu yang saat ini sedang tidak tenggelam dalam ego. Ya, aku menulis surat ini demi memperbaiki diriku sendiri. Aku ingin membuat kita tak lagi gemar menang sendiri sekaligus mengingatkan bahwa banyak orang di sekitaran yang tanpa kau sadari sudah kau abaikan. Lewat surat ini aku berusaha membantumu untuk tetap berpijak pada bumi dan mampu berbuat kebaikan selagi kamu masih bisa menghela udara.

Walau sering merasa dunia berlaku kurang adil padamu, sesungguhnya di sisi ada orang-orang yang begitu menyayangimu


Mungkin kamu belum menyadari benar bahwa dari sekian milyar manusia yang memenuhi bumi, kamu termasuk dalam golongan yang beruntung. Ya, kamu memiliki ayah, ibu, saudara, bahkan kawan yang selalu ada di sekitaran. Ada sosok ayah yang siap sedia banting tulang memenuhi semua kebutuhan. Ada pula ibu yang merawat dengan penuh kasih dan tak pernah alpa menuturkan wejangan, membuatmu selalu berada dalam jalur yang benar.
Selain orangtua, ada juga sosok saudara yang walaupun menyebalkan namun sebenarnya mereka benar-benar peduli pada keadaanmu. Ah, dan masihkah kamu ingat bahwa kamu selalu memiliki kawan di dalam hidupmu? Para sahabat yang selalu ada untuk berbagi dekap di saat hatimu terbelah menjadi dua. Mereka juga selalu sedia telinga, tak pernah jemu, walaupun kamu selalu mengulang cerita yang sama.

Mereka dengan sabar menerima segala tingkah konyolmu sebagai manusia. Sementara kau justru sering memandang kebaikan mereka sebelah mata


Memang manusia tidak bisa meminta watak apa yang melekat pada dirinya ketika dilahirkan. Begitu pula kamu, kamu memang memiliki karakter keras. Bahkan terkadang orang-orang di sekitarmu harus berlapang dada untuk berhadapan dengan kepala batumu. Sadarkah kamu bahwa egomu selalu memegang kendali dan memenuhi udara?
Ya, kamu sering ingin menang sendiri. Terkadang kamu juga tenggelam ke dalam rasa iri yang sering membuatmu membenci teman tanpa alasan yang jelas. Saat ada beberapa teman yang berhasil meraih penghargaan kamu akan mengucapkan dengan hati setengah dan senyum yang tidak terlalu merekah.
Dipenuhi dengan orang-orang baik hati yang memiliki rasa tulus mencintaimu juga tidak membuatmu merasa lebih baik. Kamu justru merasa bahwa kebaikan yang mereka lakukan merupakan sebuah kewajiban. Sehingga kamu pun lebih gemar mengabaikan. Berpikir bahwa toh usia mereka semua masih panjang dan kamu bisa membalas segala kebaikan mereka kapan-kapan.

Kamu boleh merasa ingin menang sendiri. Tapi bukankah mereka juga punya hati?


Kamu mungkin tidak tahu betapa hati orang di sekitarmu selalu didera rasa sakit tiap kali kamu mengabaikan mereka. Ya, ibumu terluka tiap kali kamu selalu melontarkan alasan tidak bisa pulang ke kampung halaman. Begitu juga ayahmu, beliau kecewa ketika ragamu berada di rumah namun pikiranmu terhisap pada pada layar ponsel.
Tidak hanya mereka, adikmu juga sebal ketika harus menghadapi sifatmu yang selalu kekanakan. Tahukah kamu, di usiamu yang sudah menginjak kepala dua ini harusnya kamu bisa menjadi contoh panutan? Ya, tidak seharusnya kamu ingin menang sendiri dan mengharuskan setiap orang menuruti segala keinginan.
Belum lagi ketika kamu justru mengabaikan sahabat-sahabat yang sudah begitu baiknya hadir di dalam hidupmu. Kamu sengaja mengaku sedang sibuk dan enggan menghabiskan waktu ketika mereka butuh kehadiranmu. Kamu lebih menikmati ketika mereka bisa diajak berbagi suka. Namun saat mereka ingin sedikit membagi duka, kamu langsung menyibukkan diri.

Maukah sekarang kau sedikit melunakkan kerasnya kepala? “Selamanya” bukan bilangan waktu yang sah di dunia. Kau peru berubah sebelum penyesalan menyapa


Kamu hanya diberi kehidupan sekali ini saja. Bertemu dengan orang-orang yang selalu membuat hatimu bahagia juga tidak selamanya. Ya, kamu tidak tahu kapan masa mereka di dunia akan habis, kamu bahkan juga tidak tahu kapan kontrakmu di bumi akan disudahi.
Jadi, sebelum segalanya terlambat dan kamu dilumat penyesalan, maukah kamu berbesar hati melunakkan kerasnya kepalamu? Maukah kamu tak lagi mengabaikan mereka yang selalu berbuat baik padamu? Sebelum kamu tak lagi memiliki kesempatan. Berbagi kasihlah kepada ayah, ibu, saudara, serta kawan-kawanmu yang selama ini ada untukmu. Kamu tidak akan merugi, justru perasaan gembiralah yang akan memenuhi hati.
Mulai sekarang berjanjilah kepada diri sendiri bahwa kamu tidak akan mengulang kesalahan yang sama demi kebahagiaan yang akan kamu petik di masa depan.

Untukmu, yang Sedang Menjalin Hubungan Tanpa Status Denganku

0 komentar
Hei.
Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku tak memanggilmu dengan sebutan yang lebih panjang, dengan sebutan yang lebih personal. Sapaan ‘hei’ terasa terlalu datar. Terlalu jauh dari sifatku yang selama ini kamu kenal.
Kamu pun pasti mendeteksi perubahan sikapku akhir-akhir ini. Aku menjadi lebih diam, namun pada saat bersamaan lebih cepat gusar. Seperti seorang pacar yang sedang marah — kecuali tentu saja aku bukan pacar siapa-siapa.
Karena hingga saat ini, sayangnya, hubungan kita belum bernama.

Pertemuan kita memang sangat biasa, berawal dari status teman/sahabat yang membuat kita kian lekat


Apakah kau masih mengingat pertemuan pertama kita? Beberapa bulan silam kita hanyalah teman satu pekerjaan yang sering menghabiskan waktu bersama. Ya, aku dan kamu memiliki pekerjaan serupa. Kita sama-sama dalam 1 lingkungan yang sama. Kita pun sering meluangkan waktu, entah untuk tertawa, bercanda atau apalah hingga gelapnya malam tiba.
Tidak, kala itu tidak hanya melulu aku dan kamu, banyak juga kawan-kawan lainnya. Namun, dari sekian banyak manusia di sana, kamu dan aku memiliki persamaan, secara membuat kita kian lekat. Kita lebih senang berbincang dan berbagi cerita daripada mengikuti hingar-bingar suasana. 
Aku senang mendengarkan mu bertutur mengenai hal-hal konyol yang membuatku menyadari bahwa ternyata dirimu apa adanya tak mementingkan apa yang dikatakan oleh orang lain terhadapmu. Kau pun gemar mendengarkan candaan yang ku lontarkan dengan lugunya. Memujiku bahwa aku lelaki yang super konyol. Aku tak tahu itu pujian atau sindiran, yang penting apapun yang kau katakan tentang diriku membuatku merasa senang.

Meski tak memanggil satu sama lain dengan nama kesayangan, tangan kita saling menggenggam


Tanpa disadari, kedekatan kita pun berlanjut. Jika dulunya kita selalu pergi bersama kawan lainnya, kini kau tak segan untuk mengajak berdua saja saat itu, walaupun something happen sih :D . Diam-diam aku menikmati tiap menitnya karena aku selalu mengiyakan apapun yang kau katakan setelahnya.
Saat kita bercanda bersama kawan pun kita tak pernah alpa untuk berdua, menimbulkan pertanyaan ingin tahu yang beterbangan di udara. Kau sepertinya tidak keberatan dengan hal itu, aku pun lebih memilih diam dan menutup telinga. Ya, aku lebih memilih untuk menikmati tiap detik yang kita habiskan bersama.
Walaupun kemudian raga kita tak selalu bersama namun selalu ada cara untuk mengakalinya. Selalu ada pesan darimu kutemukan di layar ponsel sebelum aku menutup mata. Ucapan selamat malam sederhana yang dengan suksesnya mengukir senyum sekaligus membuatku terpana beberapa detik setelahnya.

Aku tahu kamu menikmati ini. Namun seringkali, aku merasa dada ini sangat sesak melihatmu dekat dengan yang lain


Kedekatan kita memang sepertinya sudah naik kasta. Aku tahu, sebagaimana diriku, kamu pun menikmatinya. Namun ini tak pernah mendorongmu membuat hubungan kita resmi. Dalam banyak hal, aku merasa bosan dan sesak di dada ini ketika melihat kau bercanda dan tertawa dengan lelaki lainnya.
Apakah kau pernah menghitung berapa kali aku mencoba membuka percakapan hingga menjurus mengenai status kita berdua? Saat lelaki lain memiliki kekasih hati yang bisa dibanggakan, aku hanya akan gigit jari. Bagaimana bisa memanggil ‘sayang’ atau mencemburui orang yang bahkan tak aku miliki?
Aku berulang kali menyegarkan pikiranku bahwa semua akan baik-baik saja. Jalani dulu, toh pasti semua ada masanya. Namun, hampir beberapa bulan berlalu dan hubungan kita masih tetap sama.

Salahkah jika sekarang aku menuntut kejelasan?


Sebut saja aku lelaki kolot yang berpegang pada prinsip usang. Namun, aku menginginkan kejelasan untuk kita berdua. Apa yang begitu kau takutkan? Apakah kau belum siap untuk sebuah komitmen? Asal kau tahu, aku juga tidak siap untuk hubungan cinta yang tak bernama.
Aku tidak menuntut mu mengutarakan cinta seperti yang biasa kita lihat di acara konyol di layar kaca. Aku hanya ingin kita membicarakannya baik-baik dan membuat hubungan ini segera menemukan julukannya. Jika berbicara berdua membuat lidahmu kelu, kau boleh menuangkan pemikiranmu di surat balasan yang akan selalu kutunggu.
Jika nyatanya hubungan kita memang tidak naik tahta, toh tetap ada label ‘sahabat’ yang tetap melekat. Ya, aku tidak menuntut untuk kau jadikan pacar, aku hanya menuntut kejelasan hubungan. Sesederhana itu.