Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku tak memanggilmu dengan sebutan yang lebih panjang, dengan sebutan yang lebih personal. Sapaan ‘hei’ terasa terlalu datar. Terlalu jauh dari sifatku yang selama ini kamu kenal.
Kamu pun pasti mendeteksi perubahan sikapku akhir-akhir ini. Aku menjadi lebih diam, namun pada saat bersamaan lebih cepat gusar. Seperti seorang pacar yang sedang marah — kecuali tentu saja aku bukan pacar siapa-siapa.
Karena hingga saat ini, sayangnya, hubungan kita belum bernama.
Pertemuan kita memang sangat biasa, berawal dari status teman/sahabat yang membuat kita kian lekat
Apakah kau masih mengingat pertemuan pertama kita? Beberapa bulan silam kita hanyalah teman satu pekerjaan yang sering menghabiskan waktu bersama. Ya, aku dan kamu memiliki pekerjaan serupa. Kita sama-sama dalam 1 lingkungan yang sama. Kita pun sering meluangkan waktu, entah untuk tertawa, bercanda atau apalah hingga gelapnya malam tiba.
Tidak, kala itu tidak hanya melulu aku dan kamu, banyak juga kawan-kawan lainnya. Namun, dari sekian banyak manusia di sana, kamu dan aku memiliki persamaan, secara membuat kita kian lekat. Kita lebih senang berbincang dan berbagi cerita daripada mengikuti hingar-bingar suasana.
Aku senang mendengarkan mu bertutur mengenai hal-hal konyol yang membuatku menyadari bahwa ternyata dirimu apa adanya tak mementingkan apa yang dikatakan oleh orang lain terhadapmu. Kau pun gemar mendengarkan candaan yang ku lontarkan dengan lugunya. Memujiku bahwa aku lelaki yang super konyol. Aku tak tahu itu pujian atau sindiran, yang penting apapun yang kau katakan tentang diriku membuatku merasa senang.
Meski tak memanggil satu sama lain dengan nama kesayangan, tangan kita saling menggenggam
Tanpa disadari, kedekatan kita pun berlanjut. Jika dulunya kita selalu pergi bersama kawan lainnya, kini kau tak segan untuk mengajak berdua saja saat itu, walaupun something happen sih :D . Diam-diam aku menikmati tiap menitnya karena aku selalu mengiyakan apapun yang kau katakan setelahnya.
Saat kita bercanda bersama kawan pun kita tak pernah alpa untuk berdua, menimbulkan pertanyaan ingin tahu yang beterbangan di udara. Kau sepertinya tidak keberatan dengan hal itu, aku pun lebih memilih diam dan menutup telinga. Ya, aku lebih memilih untuk menikmati tiap detik yang kita habiskan bersama.
Walaupun kemudian raga kita tak selalu bersama namun selalu ada cara untuk mengakalinya. Selalu ada pesan darimu kutemukan di layar ponsel sebelum aku menutup mata. Ucapan selamat malam sederhana yang dengan suksesnya mengukir senyum sekaligus membuatku terpana beberapa detik setelahnya.
Aku tahu kamu menikmati ini. Namun seringkali, aku merasa dada ini sangat sesak melihatmu dekat dengan yang lain
Kedekatan kita memang sepertinya sudah naik kasta. Aku tahu, sebagaimana diriku, kamu pun menikmatinya. Namun ini tak pernah mendorongmu membuat hubungan kita resmi. Dalam banyak hal, aku merasa bosan dan sesak di dada ini ketika melihat kau bercanda dan tertawa dengan lelaki lainnya.
Apakah kau pernah menghitung berapa kali aku mencoba membuka percakapan hingga menjurus mengenai status kita berdua? Saat lelaki lain memiliki kekasih hati yang bisa dibanggakan, aku hanya akan gigit jari. Bagaimana bisa memanggil ‘sayang’ atau mencemburui orang yang bahkan tak aku miliki?
Aku berulang kali menyegarkan pikiranku bahwa semua akan baik-baik saja. Jalani dulu, toh pasti semua ada masanya. Namun, hampir beberapa bulan berlalu dan hubungan kita masih tetap sama.
Salahkah jika sekarang aku menuntut kejelasan?
Sebut saja aku lelaki kolot yang berpegang pada prinsip usang. Namun, aku menginginkan kejelasan untuk kita berdua. Apa yang begitu kau takutkan? Apakah kau belum siap untuk sebuah komitmen? Asal kau tahu, aku juga tidak siap untuk hubungan cinta yang tak bernama.
Aku tidak menuntut mu mengutarakan cinta seperti yang biasa kita lihat di acara konyol di layar kaca. Aku hanya ingin kita membicarakannya baik-baik dan membuat hubungan ini segera menemukan julukannya. Jika berbicara berdua membuat lidahmu kelu, kau boleh menuangkan pemikiranmu di surat balasan yang akan selalu kutunggu.
Jika nyatanya hubungan kita memang tidak naik tahta, toh tetap ada label ‘sahabat’ yang tetap melekat. Ya, aku tidak menuntut untuk kau jadikan pacar, aku hanya menuntut kejelasan hubungan. Sesederhana itu.


0 komentar:
Posting Komentar