Pengunjung

Melupakan Seseorang

0 komentar
Seseorang pernah mengatakan kepada diri ini;
Saya memilih dia hanya untuk melupakan yang dia yang sudah pergi.

Sayapun menyanggah pernyataan tersebut, dengan lantang berkata;
Jangan menggunakan "seseorang"
Untuk melupakan "seseorang"

Dia sontak bertanya balik, atas pernyataan yang saya lontarkan tetang ucapannya;
"Terus bagaimana caranya?
Bagaimana cara melupakan?"

Sayapun menjawab;
Just slowly, but sure. Jangan memaksa untuk melupakan, namun biasakan diri untuk "Merelakan"

Diapun bertanya kembali;
Kenapa?

Karena tidak ada satupun manusia yang bisa melupa. Dan lagi pula otak kini ini diciptakan untuk mengingat, bukan melupa. Jadi sekarang, jangan lagi menjadikan orang lain sebagai pelampiasan, atas semua pedih-sakit yang kamu rasakan. Dan juga, gak perlu lagi menjadikan seseorang sebagai pelarian belaka. Karena kamu punya hati, mereka pun punya hati juga. Jangan saling menyakiti. Oke. Ujarku kepadanya

Sambil menunduk diapun mengangukan kepalanya.

Jika kita menggunakan "seseorang", untuk melupakan "seseorang". Maka kita gak benar-benar melupakannya dan gak bakalan ada akhirnya.
Kalau kita bisa melupakan si A, karena si B. Maka saat kita harus melupakan si B, kita harus mencari sosok yang lain?

Apakah kalian pernah mengalami?
Jika pernah maka, jangan diulangi. Hanya akan menambah rasa pedih-sakit yang pernah kita alami sebelumnya. Pengen nya untuk mengurangi rasa pedih-sakit, malah akan menambah rasa pedih-sakit tersebut.

Ruginya orang berselisih

0 komentar
RUGINYA ORANG BERSELISIH

1. Kalau berselisih dengan pelanggan... walaupun kita menang... Pelanggan tetap akan lari...
2. Kalau berselisih dengan rekan sekerja... Walaupun kita menang... Tiada lagi semangat bekerja dalam tim...
3. Kalau berselisih dengan boss... Walaupun kita menang... Tiada lagi masa depan di tempat itu...
4. Kalau berselisih dengan keluarga... Walaupun kita menang... Hubungan kekeluargaan akan renggang...
5. Kalau berselisih dengan teman... Walaupun kita menang... Yang pasti kita akan kekurangan teman...
6. Kalau berselisih dengan pasangan... Walaupun kita menang... Perasaan sayang pasti akan berkurang...
7. Kalau berselisih dengan siapapun... Walaupun kita menang... Pada prinsipnya kita kalah...
Yang menang, hanya EGO DIRI SENDIRI Yang tinggi dan naik adalah EMOSI......
Yang jatuh adalah CITRA dan JATI DIRI KITA SENDIRI.....
Tidak ada artinya kita menang dalam perselisihan...

Apabila menerima teguran, tidak usah terus melenting atau berkelit, bersyukurlah, masih ada yang mau menegur kesalahan kita... Berarti masih ada orang yang memperhatikan kita...

Jaga selalu kekompakan dalam kebersamaan... Jaga lisan, perbuatan dan tulisan agar tidak ada hati yang tersakiti.

Semoga kita semua selalu dapat menjaga Ego dan Emosi, Dan selalu menjadi manusia yang pandai bersyukur...
_*"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun,*_
_*Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu."*_
_*Teruslah melangkah selama engkau berada di jalan yang baik, meski terkadang kebaikan tidak selamanya dihargai.*_
_*Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi siapa yang mau berbuat baik.*_
_*Jika datang kepadamu gangguan, jangan berpikir bagaimana cara membalas dengan yang lebih pedih, tapi berpikirlah bagaimana cara membalas dengan yang lebih baik.*_
_*Teruslah berdoa dan bersyukur
_*Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikutimu.*_

Mengenalmu

1 komentar
Entah aku menyebutmu sebagai apa, sandaran? Tapi kita tak ada hubungan lebih. Atau sebagai teman dekat? Tapi yang namanya teman dekat tidak mungkin seperti hubungan orang yang mengikat.

Kau selalu saja membuatku menerka-nerka tentang perasaanmu, jika kamu tak ada niat untuk melanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih serius, setidaknya jangan membuatku merasa betah dan nyaman.

Kemudian kau mulai jauh, ketika perasaan yang kau tanam telah tumbuh meninggi, kau adalah kesementaraan yang mungkin sempurna kekal dalam ingatan, kini kucoba melupakannya perlahan, walau hati harus tetap tegar sebab sedang hancur tersiksa kenangan.

Terima kasih telah berbagi kebahagian dikala hati terasa sepi.

Mengenalmu, itu semua sudah terasa cukup dibanding harus bersamamu namun tanpa ada kepastian.

Pemeran Pembantu

1 komentar
Sebagai mana yang kita tahu pemeran pembantu merupakan pemeran yang memiliki peran yang tidak penting dalam sebuah cerita dan tokoh ini hanya dipilih sebagai penunjang pemeran utama.


Inilah peranan yang diriku jalani didalam ceritamu. Walaupun diriku tahu peran seperti apa yang kujalani dalam ceritamu tetap saja kujalani. Hanya sekedar ingin tahu apakah pemeran pembantu bisa naik kasta menjadi pemeran utama? Mungkin tidak pikirku, tapi apa salahnya mencoba hal yang dianggap mustahil bukan? Karena dalam hidup kalau belum dicoba kita belum tahu akan hasilnya.

Kau tahu seberapa tegar dan sabarnya diriku menjalani peranan ini? Ku rasa tidak karena kau hanya memikirkan supaya kisahmu dengannya baik-baik saja. Padahal pemeran pembantu juga punya hati loh... Tapi kau tak pernah memahami hal itu. Kau hanya menganggap pemeran pembantu tidak akan mengetahui kisahmu dengan dirinya yang lebih dulu ada dalam ceritamu. Padahal pemeran pembantu sebenarnya telah mengetahui sejak awal.


Kau boleh bermain dengan rasa dan prasa.

Yang memungkinkan alurnya terurai atau terikat. Kalau soal logika biarkan diri ini yang mengartikan. Soal lara dan duka biar diri ini yang menikmati. Kau cukup bersenang-senang saja dengan ceritamu dengan dirinya, jikalau kau bosan mendekatlah kepada pemeran pembantu ini. Itu yang sedari awal ku tanamkan dalam hatiku.

Terkadang orang bilang bodohnya diriku, memang bodoh tapi karena lupa diri dengan perasaan nyaman yang diberi dan menikmati setiap kisah yang ku jalani bersamamu sampai aku lupa bahwasanya diriku hanya pengganti dikala dirinya tak ada. Padahal telah kucurahkan semua harapanku kepadamu, tapi diriku tak pernah mendapatkan jawaban atas semua harapan yang diriku ucapkan kala itu. Semua harapan itu hanya kau anggap sebagai gurauan semata, ingin rasanya diriku mengeluarkan semua yang membakar isi kepala kepada dirimu tapi tetap saja hati berbisik untuk tetap bersabar.

Tahukah kau bagaimana rasanya menjalani peran yang seperti itu? Diriku rasa tidak, karena yang kau tahu hanyalah bagaimana dimengerti tapi tak pernah memahami.

Coba sejenak kau berada di peran yang sedang diriku jalani, sanggup dan kuat kah dirimu? Menjalani hari-hari dengan berpura-pura menutup mata dan telinga saat kau bersama dengannya. Dan berpura-pura tidak tahu tentang alur cerita yang kau tulis.

Perasaan lelah, sakit dan kecewa adalah makanan setiap harinya bagi diriku, hanya dengan melakoni peran yang kau tuntut kan kepadaku. Coba sedikit saja kau memahami apa yang telah ku lewati dalam menjalani ceritamu mungkin aku akan lebih bersabar dan bertahan dalam menjalani kisah itu. 

Tapi karena setiap kali masalah datang kau hanya mengucapkan satu kata "aku ikhlas kau dengan yang lain". Dirimu memang ikhlas dan rela karena masih ada dia yang bisa menemanimu disaat aku tak ada lagi diceritamu. Lantas diriku harus mengulang kembali dengan sebuah pendekatan baru dengan cerita yang baru. Asal kau tahu bahwa memulai sesuatu yang baru itu terasa sangatlah sukar, karena harus menyelami karakter baru lagi.

Setelah beberapa lama menjalani kisah ini, sudah banyak badai yang telah kita lalui, seakan badai tak pernah hilang dalam setiap perjalananku bersama dirimu. Karena badai yang tak kunjung henti itulah sempat diri ini berfikir untuk menanyakan sesuatu padamu "Aku ini siapa?" "Dihatimu aku ini siapa?" Andai dihari itu aku berani menanyakannya, mungkin aku takkan tenggelam dalam ketidakpastian. Mungkin aku takkan menunggu hal yang tidak memiliki tujuan ini. Tapi sontak diripun sadar jika aku menanyakan hal tersebut mungkin akan menjadi badai baru yang akan menghancurkan apa yang selama ini dibangun.


Hingga badai selanjutnya datang dimana aku merasa sangat cemburu terhadap seseorang. Sempat aku mendiamkan dirimu beberapa saat hingga moodmu berubah, sontak akupun menurunkan egoku dan mendekatimu untuk mengembalikan lagi mood dirimu seperti semula. Tapi semua usahaku kau abaikan begitu saja hingga diriku dirasuki emosi yang begitu besar. Hingga malam tiba, dering poselpun berbunyi tanda pesan masuk darimu yang menanyakan "ada apa?", aku pun mengetik pesan padamu "Aku cemburu" tapi dalam keadaan masih emosi yang sama. Dari percakapan nan panjang terlontar oleh mu pesan yang membuat emosiku makin menggebu "segitukah sayangmu terhadapku" bunyi pesan yang kau kirim saat itu. Hingga membuat hati ini merasakan sakit yang tak karuan. Dalam hatiku hanya bisa tertawa dan berkata " hanya segitu?", tak terpikirkan oleh mu sedikit saja bagaimana peran yang telah kulalui selama ini? Dan dengan mudahnya kau katakan sebatas itu rasa sayangku? Ingin sekali hari itu aku mengucapkan kata yang tak seharusnya terucap, karena harapanku yang begitu besar telah kuberikan semua kepadamu.

Maaf bukannya diriku bermaksud ingin mengubah alur dalam ceritamu dan bukan juga ingin merusak kisahmu dengannya, tapi karena semua harapanku membuat ku ingin mengubah semua alur dalam ceritamu menjadi apa yang aku impikan dalam ceritaku sendiri. Dimana tak ada dirinya, hanya ada diriku dan dirimu.

Dan karena harapan itu lah terlontar ucapku dikala badai terakhir yang menerpa kita. Diriku menuntut sebuah kejelasan yang selalu kutahan karena tak ingin merusak apa yang telah kita jalani. kala itu aku bertanya seserius apakah dirimu terhadapku? Dan jika dirimu memang serius kenapa tak pernah ada sedikitpun kejujuran tentang dirinya yang keluar dari mulutmu? Kenapa dirimu hanya ingin menjalani setiap kisah denganku tanpa aku tahu apa-apa tentang dirinya? Yang akhirnya membuat kita saling mengadu ego kita masing-masing. Dan kata ingin saling menghilang dari kehidupan masing-masing pun terucap kala itu. Memang benar apa yang telah dikatakan orang dimana ego dilawan dengan ego, maka perpisahanlah yang akan jadi pemenangnya.

Jelang beberapa hari setelah kata ingin menghilang terucap, diriku ingin sekali memperbaiki semua yang telah terjadi kala itu. Tapi yang ku dapat hanyalah rasa tak dianggap, sungguh rasanya memilukan. Sekeras apapun aku berusaha dan bersabar tetap yang ku dapat hanya perasaan yang tak dianggap.

Dan sekarang mungkin kau tak perlu menjawab tentang semua hatapan yang telah ku uraikan kepadamu dulu. Diriku telah memahaminya. Maaf,mungkin kata maaf dariku belum cukup bagi dirimu tapi hanya itu yang bisa ku ucapkan kepadamu. Aku berharap kau tak perlu lagi berfikir untuk menjawab semua harapan yang telah ku ungkapkan kepadamu, cukup kau jalani saja kisahmu seperti sedia kalanya. Dan aku berharap semoga kisah yang kau tulis ini menjadi kisah yang sangat kau mimpi-mimpikan. Aamiin....

Dan akupun sudah paham akan peranku dalam ceritamu. Jika kau ingin melepas tak apa, karena kupikir mungkin peran yang kau berikan padaku dalam ceritamu telah usai. Maaf karena tidak sempat jujur dari awal menjalani kisah ini, bahwasanya diriku telah mengetahui semuanya dan membiarkannya berjalan begitu saja. Bukannya bermaksud mengubah dan menghancurkan ceritamu hanya saja diriku hanya ingin melihat kesungguhan dan kejujuran mu terhadap diriku dan apakah peranan ku bisa berubah nantinya dalam ceritamu. Ternyata harapan dan anganku terlalu tinggi untuk hal itu.

Tak tahu alasan apa yang ingin kau pendam terhadap diriku hingga dibadai terakhir pun tak ada sedikitpun kejujuran yang terucap dari dirimu. Pikirku cuma mengatakan mungkin aku akan merasakan kekecewaan jika kau jujur terhadap kisah dan tentang dirinya kepadaku.

Jika akhirnya nanti kau bertemu dengannya tolong jaga dia dan sampaikan padanya tolong jaga dirimu baik-baik, jangan pernah sekalipun ia mengecewakan dirimu dan jangan biarkan dirimu menunggu begitu lama. Karena kau sangat menginginkan kebahagian yang lebih darinya dan menahan kerinduan ingin berjumpa yang begitu lama kau pendam. Saranku jauhilah orang-orang yang ingin merusak hubunganmu dengannya. Mungkin aku tahu alasanmu untuk mendekati yang lainnya, tapi ingat dirinya juga punya perasaan dan juga pasti akan terluka jika melihatmu lebih dekat dengan yang lain ketimbang dirinya.

Maaf hanya do'a bahagia yang bisa ku kirimkan kepadamu yang telah mengisi kosongnya hatiku, walau hanya sebagai pengganti dirinya yang kau tunggu untuk kembali. Semoga kau dan dia cepat dipertemukan, karena rindu yang kau tahan cukup lama kepada dirinya dan semoga dia cepat meminangmu.

Terimakasih telah mau menjalani hari-hari bersamaku walau hanya sesaat, tapi sangat mengingat dalam benakku. Dan maaf karena sempat menoreh luka dan memberi kecewa selama menjalani kisah bersamaku.

Sekali lagi maaf dan terimakasih.

Aku pamit, Berbahagialah dengannya.

Dari aku yang sangat menginginkanmu menjadi pendamping hidupku.

Cinta Itu Bukan Hanya Sekedar Perasaan

0 komentar
Pacaran itu suatu hal yang mengesankan dan ‘harus dipertahankan’ jika memang sudah sepadan.
Seperti kata kata berikut: cinta tak pernah akan begitu indah, jika tanpa persahabatan….. yang satu selalu menjadi penyebab yang lain dan prosesnya… adalah irreversible……

Seorang pecinta yang terbaik adalah sahabat yang terhebat. Jika engkau mencintai seseorang, jangan berharap bahwa seseorang itu akan mencintaimu persis sebaliknya dalam kapasitas yang sama.
Satu diantara kalian akan memberikan lebih, yang lain akan dirasa kurang……….. Begitu juga dalam cinta: engkau yang mencari, dan yang lain akan menanti……

Jangan pernah takut untuk jatuh cinta…. mungkin akan begitu menyakitkan, dan mungkin akan menyebabkan engkau sakit dan menderita…..
Tapi jika engkau tidak mengikuti kata hati, pada akhirnya engkau akan menangis……. jauh lebih pedih… karena saat itu menyadari bahwa engkau tidak pernah memberi…. cinta itu sebuah jalan.
Cinta bukan sekedar perasaan, tapi sebuah komitmen…. Perasaan bisa datang dan pergi begitu saja…… Cinta tak harus berakhir bahagia….. karena cinta tidak harus berakhir…..
Cinta sejati mendengar apa yang tidak dikatakan…. dan mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab cinta tidak datang dari bibir dan lidah atau pikiran……… melainkan dari HATI.

Ketika engkau mencintai, jangan mengharapkan apapun sebagai imbalan, karena jika engkau demikian, engkau bukan mencintai, melainkan….. investasi.

Jika engkau mencintai, engkau harus siap untuk menerima penderitaan. Karena jika engkau mengharap kebahagiaan, engkau bukan mencintai, melainkan…. memanfaatkan.
Lebih baik kehilangan harga diri dan egomu bersama seseorang yang engkau cintai daripada kehilangan seseorang yang engkau cintai, karena egomu yang tak berguna itu……..

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti, cintailah mereka seperti sungai, sebab sungai mengalir selamanya……..
Cinta mungkin akan meninggalkan hatimu bagaikan kepingan2 kaca, tapi tancapkan dalam pikiranmu, bahwa Ada seseorang yang akan bersedia untuk menambal lukamu dengan mengumpulkan kembali pecahan2 kaca itu…..

Sehingga engkau akan menjadi utuh kembali……
So…..berjuanglah hingga dapat cinta sejati, OK

KETIKA MENCINTAI SEPENUH HATI HANYA TERBALAS SETENGAH HATI

0 komentar
Luka sederhana namun membekas sepanjang masa adalah ketika mencintai sepenuh hati terbalas dicintai setengah hati

Setelah sekian lama berjuang, dari yang sedekat pelukan hingga sejauh rembulan. Kini aku akhirnya menyerah pada semesta yang tak merestui hubungan kita.

Walau hati serasa tertusuk jarum panas berbalut api, aku tetap setia mencintaimu walau kini kau sudah memilih bersamanya. Sumpah ku menjadikan mu yang terakhir adalah janji suci yang tak akan mungkin ku langgar kepada yang maha kuasa. Terima kasih telah mematahkan kedua sayap ku, hingga aku tak bisa terbang mencari bintang yang lain lagi.

Dulu ketika kita berdua sedang berjuang, kita pernah saling menguatkan untuk tidak mundur walau sejengkal. Namun kenyataan pahit itu telah membuka tabir baru yang menyakitkan, bahwa aku harus mundur karena dinding cinta yang dulu pernah kita bangun kau robohkan dengan tanganmu sendiri. Aku tak pernah memilih untuk mundur, hanya saja kesetiaan yang telah kau rusak membuat hatiku menjadi ambruk tak berkeping.

Maka inilah yang terjadi saat ini. Ketika diriku menelan pil cinta dengan dosis yang berlebihan, maka rasa sakitnya pun tak pernah berkesudahan. Ingin dimuntahkan namun sakit, Ingin ditelan namun panas.

Jika diingat dahulu ketika kau rebah seraya memeluk tubuhku kau mengatakan janji untuk setia terhadap hati yang satu. Kau juga pernah mengubar janji pada gelapnya langit yang dipenuhi kemerlap bintang- bintang, bahwa aku adalah satu-satunya pria yang ada di hatimu. Namun ternyata kau menghianati senja yang pernah menghapus air mata mu disaat kau berjuang untuk memiliki ku.

Dan itulah cinta, disaat aku memberikan tiga perempat dari kepingan hatiku, kau hanya membalas dengan memberikan satu perempat dari kepingan hatimu. Sisanya kau berikan kepada pria lain. Lelaki itu manusia kuat, namun lemah dan lemas ketika diterpa angin pengkhianat cinta.

Ingin rasanya memaafkan mu, Ingin ku tahan kaki ku untuk tak mundur. Namun bekas luka tusuk dusta telah membuatku hilang rasa untuk membangun kembali tembok cinta kita. Pengkhianat cinta adalah dosa terbesar yang tak akan pernah dimaafkan oleh pria.

Saat mata telah melihat sendiri dirimu telah mendua, hatiku benar-benar tak berdaya. Hati berdenyut namun seolah tak bernyawa. Rasanya seperti terkompres air es yang teramat dingin, kemudian dipanggang dalam letupan api yang berbahan bakar batu bara. Lidah sudah tak mampu merangkai kata untuk menceritakan betapa sakitnya dikhianati.

Disaat tubuhku telah lemah dan tergolek lemas karena dikhianati cinta, Tuhan dengan senyuman indah memeluk tubuhku yang hampir menghujam lantai. Tuhan bahkan tak merasa marah sekali terhadap ku. Padahal selama ini cintaku kepadanya terbagi terhadap salah satu makhluknya yang fana. Ketika rasa cintaku mengalahkan rasa cintaku kepada-NYA, Tuhan berbaik hati menopang ku yang sedang lebam di rundung pilu pengkhianatan.

Kau kembali lagi disaat diriku telah memutuskan untuk mundur. Sayangnya, aku sudah mulai berpikir bahwa yang mengejar belum tentu sungguh-sungguh untuk memulai kembali sesuatu yang telah luka.

Lantas aku memilih berlari sejauh mungkin, mundur dalam keadaan kalah sekalah-kalahnya. Aku mundur, kalah bertarung mempertahankan mu karena engkau yang tengah lelah ku pertahankan memilih untuk membagi cinta. Maaf aku harus meninggalkan karena tak kuasa menerima cinta yang terbagi. Maka aku mundur dengan tertatih, membawa semua duka yang tak tahu kapan akan hilang.

Tak masalah jika kita harus berpisah. Pada akhirnya, kau telah membuatku merasakan yang namanya perjuangan. Setidaknya kini aku tersadar bahwa tiap-tiap kesalahan yang telah ku perbuat, bukan orang lain yang akan bertanggung jawab. Namun diriku lah yang harus membayarnya kembali dengan lebih dekat dan lebih lama lagi bersujud kepada yang Maha Kuasa.

Takdir terkadang menampar dengan cara yang tak biasa. Tanpa basa-basi menampar siapapun yang ada dihadapannya. Pada waktu itu, nyatanya aku tidak takut untuk jatuh cinta. Yang kutakuti adalah orang yang telah kucinta dengan penuh, ternyata mencintaiku dengan separuh.

Ada banyak pelajaran dari luka, sama seperti waktu pertama kali kaki berjalan menelusuri tanah. Lutut terkadang memar bercumbu dengan tanah. Darah tak jarang menjadi teman yang mengiringi air mata dikala sakit karena terjatuh. Namun dari sana akhirnya kita belajar artinya sebuah berjalan. Hingga akhirnya kita sudah mampu berlari sekencang-kencangnya.

Begitu juga halnya dengan pengkhianat. Mungkin Tuhan telah berusaha menyapa ku dengan cara yang berbeda dari cara yang biasanya. Tuhan rindu dengan diriku yang dulu jarang tersenyum dan menyapa-NYA dalam sujud yang khusuk. Tuhan mungkin pernah cemburu saat diriku benar-benar jarang mencumbui-NYA dalam sujud yang suci.

Kini akhirnya aku baru tersadar bahwa. Seharusnya dalam setiap do'a yang kubisikan kepada Tuhan di malam hari bukanlah agar aku diberi kemudahan dalam menghadapi setiap masalah. Namun seharusnya aku meminta diberi pundak yang kuat agar kuat menghadapi berbagai cobaan berat yang benar-benar menguras isi hati yang paling dalam.

Kini aku harus belajar untuk mengikhlaskan. Berdamai dengan masa lalu dengan cara terbaik untuk memulai hari yang baru. Setidaknya dulu aku pernah benar-benar berjuang untuk mencintai dirinya, walau akhir cerita aku harus berakhir dengan air mata.

Terima kasih selama ini telah memberi warna dalam hidupku. Selama ini aku menjaga mu untuk akhirnya menjadi milik orang lain. Selama ini mencintaimu sedalam palung samudera, kini aku mundur setelah kalah bertarung melawan pengkhianat. Luka sederhana namun membekas sepanjang masa adalah ketika mencintai sepenuh hati terbalas dicintai setengah hati.

Status

1 komentar
Disebut apa kita ini?
Sangat dekat, tapi tak terikat.
Saling mengerti, tapi tak memiliki.
Saling cinta, tapi tak bersama.

Kita selalu menghabiskan malam bersama.
Mengisinya dengan perbincangan hangat
tentang apapun hingga tak tahu waktu.

Tapi mengapa hingga kini
kita tak kunjung bersama.

Sampai kapan kita terus-menerus seperti ini?
Berjalan diatas ketidakpastian.
Melangkah tanpa sebuah kejelasan.

Setidaknya beri aku kepastian
untuk tinggal atau meninggalkan.

Aku lelah dengan semua ini. Sungguh.
Rasanya aku ingin pergi, namun tertahan oleh hati.
Aku ingin meninggalkanmu, namun hatiku
sepenuhnya tertinggal pada dirimu.

Dan percuma aku menjalani semua,
Jika masih ada dia didalam ceritamu.
Aku ingin memilikimu dengan utuh, bukan separuh.
Aku ingin menjadi yang pertama tanpa ada yang kedua.

Dari aku ; yang merasa kehilangan namun tak pernah memiliki

1 komentar
Untuk beberapa waktu yang lalu, aku pernah memberanikan diri untuk saling dekat, mencoba membiasakan diri dengan sikapmu yang tak pernah kutahu sebelumnya. Mencoba memperhatikanmu dalam bentuk apapun, dan sampai namamu adalah yang paling pertama muncul dalam pencarian media sosialku, alasannya sederhana ; aku terlalu sering mengunjungi profilemu.

Waktu demi waktu berlalu, kau dan aku masih tetap (dalam hubungan) menyatu, kadang kau datang memberikan senyum, meski ku tak tahu apa arti dibalik senyumanmu itu. Dan kadang kau menangis,  sembari mengizinkan aku mengusap air matamu, namun aku tak mengerti apa yang membuatmu menangis. Aku sudah terbiasa dengan semua ini, menjalani hubungan tanpa terikat.

Aku seringkali merasa kehilangan, padahal memilikimu saja belum pernah. Mungkin aku terlalu sering bermain dengan imajinasiku sendiri, terlalu banyak berandai-andai, sehingga kau hilang tanpa kabar; aku rapuh.

Kini aku paham, aku tersesat dijalan yang kupilih sendiri, aku terbunuh dengan ekspektasi yang terlanjur terbuat. Salah ku sendiri yang selalu melibatkan hati dalam setiap pertemuan. Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik, itu saja. Meski ku mengerti; kau tak akan pernah peduli.

Hanya sekedar datang lalu pergi

1 komentar
Sudah terlalu sering rasanya menemui seseorang yang awalnya seolah menawarkan hati namun akhirnya mematahkan hati.
Sudah teramat sering pula merasakan manisnya pertemuan dan berakhir pahit dengan perpisahan oleh orang-orang yang berbeda.
Bahkan sudah paham betul rasanya ditinggalkan ketika perasaan sedang tumbuh mekar dan nyaman-nyamannya.

Untuk kamu yang merasakan itu semua, tenang...
Memang beberapa orang masuk kehidupmu hanya untuk meninggalkan ceritanya masing-masing. Mereka hanya datang dan pergi kemudian mematahkan hati yang keberapa kali.

Karena sesungguhnya ;
Kelak kau akan dapati seseorang yang mengerti segala keinginanmu, kelak kau akan temukan seseorang yang bakal menua bersamamu, seseorang itu telah digariskan oleh tuhan untuk membahagiakanmu.
Semua pasti akan terjadi, nanti.
"Bersabarlah"

Haruskah Seperti Ini?

1 komentar
Jika aku tidak masuk dalam kriteria, setidaknya jangan buat aku ceria. Salahkan aku? Yang menganggap kebaikan darimu adalah sesuatu yang istimewa?

Ketahuilah hatiku sudah lama tak berpenghuni, oleh sebab itu aku mengira kau lah yang akan menghuni nantinya. Nyatanya aku terlanjur nyaman yang telah melampaui batas, pikirku.

Kau menutup telinga ketika aku memanggilmu, kau berbalik arah ketika aku melihatmu, bahkan ketika aku ingin menggenggam jemarimu, kau sembunyikan tanganmu.

Lantas kalau sudah seperti ini, patutkah aku menyesal?
Apa pantas aku menerimanya?
Karena telah menyimpulkan kebaikan seseorang sebagai cinta.

Tanda-tanda Kamu Terjebak dalam Hubungan yang Tidak Sehat

0 komentar
Namanya hubungan pasti ada pasang surutnya, enggak selalu berjalan mulus dan bahagia, dan hal itu wajar kok. Tapi ada hal yang perlu kamu perhatikan, yakni jangan sampai kamu terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
Kondisi hubungan yang tidak sehat dapat memberikan dampak yang tidak baik bagi hubungan kamu ke depannya. Biar kamu dan pasangan terhindar dari hal-hal yang enggak diinginkan, yuk kenali tanda-tanda hubungan tidak sehat berikut.
Kebaikan atau Hadiah yang Berlebihan
Hubungan yang enggak sehat tidak melulu soal perlakuan kasar atau kekerasan loh. Terlalu sering menuruti keinginan pasangan, memperlakukan dengan sangat spesial dan memberikan banyak hadiah juga bukanlah hal yang baik. Apalagi jika tujuannya untuk mendapatkan hal serupa yang mereka ingin dapatkan dari pasangannya. 
Menyembunyikan Masalah
Ketika kamu merasa sedih, kesal atau sedang menghadapi masalah, kamu bisa menceritakannya pada pasangan. Hubungan tidak sehat bisa jadi berawal dari kebiasaan kamu menyembuyikan masalah pada pasangan loh.
Sering Bertengkar
Bertengkar memang wajar, namun jika sering terjadi, kamu harus waspadai. Apalagi kalau dalam pertengkaran tersebut disertai dengan kata-kata caci maki, teriakan, umpatan bahkan hingga saling melempar barang dan main fisik.
Banyak Perhitungan
Kalau salah satu pihak gemar menghitung kebaikan atau perbuatan baik yang dia lakukan untuk pasangan. Apalagi membandingkan dengan pasangannya, hal ini pertanda hubungan kamu juga enggak sehat. 
Cemburu Berlebihan
Cemburu memang wajar, tapi kalau salah satu pasangan punya rasa cemburu yang berlebihan hal ini juga tidak baik dalam hubungan. Terlebih jika pasangan yang cemburu melakukan hal-hal yang berdampak buruk pada hidupmu. Seperti melarang berteman dengan teman lawan jenis dengan alasan yang tidak jelas. 
Memaksa untuk Berubah
Hubungan yang sehat sebenarnya enggak akan mengubah diri seseorang, melainkan mengembangkan diri pasangannya menjadi lebih baik. Kalau pasangan memaksa kamu untuk berubah sesuai dengan keinginannya hal tersebut bisa jadi salah satu tanda kalau hubungan kamu enggak sehat loh TemanBaik. 

Membandingkan dengan Mantan
Kalau pasangan kamu mencari-cari terus kesalahan dan membandingkan kamu dengan pasangan sebelumnya, itu berarti dia belum dewasa. Membandingkan kamu dengan pasangannya terdahulu juga menandakan kalau hubungan kamu dan dia tidak sehat. 

Penjelasan Kenapa Pola Pikir Cowok dan Cewek Itu Beda Jauh. Baca Bareng Pasangan Makin Seru Nih!

0 komentar
Sering nggak sih kamu menemukan perbedaan yang cukup kentara antara pola pikir cowok dan cewek? Nggak cuma menyangkut hal-hal besar seperti pengambilan keputusan untuk menikah, perkara "mau makan di mana" juga sering jadi bahan perdebatan dengan berbagai alasan. Hmmm, beneran gini nggak sih?


Para cowok pun terkadang kebingungan dengan pemikiran cewek, begitupula dengan cewek. Terkadang cewek suka kebingungan, mengapa cowok bertindak seperti itu, apa yang dipikirkannya, dan lain-lain. Nah, makanya yuk simak bagaimana penjelasan lengkapnya melalui Hipwee berikut ini!
Gimana sih pemikiran cowok yang sebenarnya? Simak ya penjelasannya…
Cara berpikir cowok kebanyakan menggunakan logika.


Pasti kebanyakan cewek berpikir didalam hati maupun pikiran seperti itu. Para cowok berpikir secara realistis dan menggunakan logikanya, seperti halnya tentang masalah cinta. Sebagian besar para cowok berpikir mereka mencari pacar/pendamping yang cantik. Mereka beralasan dengan memiliki pacar/pendamping yang cantik mereka akan merasa nyaman dengan pasangan mereka.


Contoh, saat PDKT dengan cewek yang mereka sukai. Para cowok akan berusaha semaksimal mungkin supaya mendapatkan pujaan hati mereka. Lalu, bagaimana kalau "misi" ini gagal? Ya, para cowok nggak akan berusaha keras lagi seperti halnya saat PDKT karena mereka sudah mendapatkan apa yang sudah menjadi miliknya. Malah justru sebaliknya, para cewek lah lah berusaha sekeras mungkin agar dapat mempertahankan hubungan yang dijalaninya.

Nah, kalau pemikiran cewek sih biasanya gini…

Pola berpikir cewek sebagian besar menggunakan perasaan dan hati mereka. Mengapa seperti itu? Para cewek beranggapan bahwa setiap yang mereka inginkan dengan tulus dan penuh harapan akan menuai hasil yang indah pula. Namun nyatanya yang kita temui atau bahkan teman cewek kita sendiri kadang sering sedih atau bahkan galau yang berkepanjangan.

Mengapa begitu? Dikarenakan para cewek sudah menaruh harapan terlalu besar atau bahkan overkepada apa yang sudah dipercayainya. Sebagai contoh tentang percintaan. Para cewek menaruh harapan yang besar kepada cowoknya, bahwa cowoknya akan setia jika ia selalu ada untuknya. Namun pada kenyataannya, cewek yang seperti ini banyak yang diputusin karena menaruh harapan yang besar kepada pasangan mereka.

So, ini nih kesimpulannya…

Dari semua opini diatas dapat dipahami bahwa cowok dan cewek memiliki cara pemikiran yang berbeda. Cowok lebih berpikir secara realistis dan menggunakan logika. Sedangkan cewek lebih cenderung berpikir menggunakan hati dan perasaan mereka. Maka dari itu, dengan adanya perbedaan pola pikir ini para cowok dan cewek diharapkan saling mengerti satu dengan yang lain.

Untuk cewek pahami pemikiran cowok jika ia berpikir menggunakan logika begitu pula sebaliknya, cowok juga harus memahami perasaan cewek saat bertindak. Pada dasarnya cewek jika ingin sesuatu tidak mengatakan langsung to the point, maka dari itu perasaan cowok akan diuji untuk memahami perasaan cewek. Jangan ada anggapan cewek baperan dan cowok tidak peka, karena pada hakikatnya cowok maupun cewek dilahirkan dengan pemikiran yang berbeda. Oleh karena itu dengan saling memahami satu dengan yang lain, kesalahpahaman dapat diminimalisir oleh cowok maupun cewek jika terjadi masalah.

Untukmu yang Telah Memaksaku Membuka Pintu Hatiku

0 komentar
Iima tahun berlalu tak terasa, rentan waktu yang bagiku sangat singkat tersebut tidak memberi kesan apapun dalam kehidupanku. Dalam hal ini yang berkaitan dengan percintaan. Jujur sejak saat itu, saat dimana hatiku patah sepatah-patahnya, membuat hatiku benar-benar tertutup rapat dengan cinta baru. Bahkan tidak sedikitpun keinginan untuk membuka lembaran kisah kasih yang selama ini membuatku risih.

Hal inilah yang akhirnya menjadi penyebab sikapku semakin dingin pada setiap makhluk Tuhan yang bergender Wanita. Tak pernah sekalipun mencoba akrab walaupun hanya sebatas sebagai teman biasa. Karena sudah kujaga dan kututup rapat hati agar tidak ada lagi sosok wanita yang akan kembali mengisi ruang hati ini.

Itu dulu, sekarang Tuhan berkehendak lain. Pintu yang sudah lama kututup itu, kini di buka NYA kembali dengan "kunci" yang baru. Sebagai Makhluk ciptaanNya aku tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali hanya menerima segala kehendak Yang Maha Kuasa.

Sebelumnya memang tak ada perasaan apapun saat pertama kali jumpa dengan Gadis itu. Namun seiring waktu berjalan, detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan pun tak mau ketinggalan turut berganti pula.

Perasaan yang awalnya biasa-biasa saja tersebut, akhirnya berubah menjadi perasaaan yang berbeda. Perasaan yang telah lama tidak ingin kurasakan lagi, perasaan yang sejatinya ingin benar-benar Aku lupakan, karena ketakutanku mengulangi luka yang sama untuk kali kedua.

Tapi apa mau dikata? sekali lagi kehendak Tuhan nyatanya tak mampu Aku tolak. Semua itu datang secara alami yang tanpa sadar menyusup kerelung hati. Apakah Aku sedang jatuh cinta? bisa saja Ya, karena perasaan ini rasanya tidak asing lagi, indikasinya hampir mirip seperti yang pernah aku alami pada masa lalu. Masa-masa yang pernah membuat hidupku terasa berarti.

Benar memang kata pepatah, 
"cinta dari mata turun kehati".
Itu mungkin yang sedang Aku alami, berawal dari saling tatap mata yang tak disengaja, yang berulang beberapa kali dalam beberapa momen pula. Puncak dari proses alamiah itu terjadi saat Kami berpapasan di gang sempit sebuah pasar.

Pertemuan tersebut membuatku benar benar terkejut, terkejut karena Ia muncul tiba-tiba dari lorong gang sempit itu, hingga satu kata keluar dari mulutku ini dengan nada pelan

"Astaghfirullah".

Kalimat itu meluncur begitu saja dari liadahku tanpa kendali. Ternyata lidahku ini tahu kapan harus mengumpat dan kapan harus beristighfar. Lidah yang bisa membedakan mana pria dan mana wanita. Aneh memang, tapi inilah yang terjadi. Sejak saat itu perasaan biasa menjadi aneh pada momen pertemuan berikutnya.

Sekarang Aku sadar bahwa mungkin saja Aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta untuk kali kedua setelah sekira setengah dasawarsa lamanya berusaha agar tidak lagi ada perasaan yang serupa.

Meskipun Aku sadari itu, tapi aku tak bisa dan tak ingin berbuat apa-apa.
Aku tak mau melakukan apapun untuk mengejar atau setidaknya mengungkapkan perasaan itu kepada gadis yang telah membuka paksa gembok pintu hati yang telah lama tertutup rapat,dan kuncinya pun telah ku buang jauh-jauh ini.

Aku pun berani mengambil kesimpulan bahwa aku jatuh cinta kepada orang yang salah. Salah karena memang tak seharusnya itu terjadi, ia terlalu istimewa bagiku. Tapi apalah daya, cinta tak bisa memilih kepada siapa, ia datang begitu saja, di usir sekuat tenaga pun Ia tetap enggan meninggalkan hati tempat bersinggahnya.

Sempat berfikir tak sampai hati membawanya masuk keduniaku. Kalaupun Ia mau, aku tak yakin juga Ia akan mampu bertahan dalam bahtera hidupku. Lalu di kemudian hari meninggalkanku dengan kekecewaan yang pasti akan membuat hatiku bisa saja tertutup kembali. Sudah cukup bagiku merasakan hal yang sempat ku alami lima tahun nan silam.

Sering kali Ia ku lihat berjalan dari kejauhan dan terkadang dengan sengaja aku mengintipnya dari dalam tokoku kearah tokonya agar dapat melihat dirinya. Aku sengaja segera memalingkan muka bila tanpa sengaja bertatap muka dengannya, agar tak semakin dalam perasaan ini memendam raut wajah Gadis itu. Ya...meski mata hati tak bisa kupalingkan darinya. 

Sebelumnya Aku memang sempat berharap kepada Tuhan agar Gadis yang berhasil meluluh lantakkan dinding keegoisan dan keangkuhanku ini, suatu saat akan menjadi pasangan yang akan menemani sepanjang sisa-sisa hidup yang ku jalani.

"Sekuat Apapun Pintu Ini Aku Tutup,

Jika Tuhan Berkehendak Membukanya dengan Kunci yang Baru,
Aku Bisa Apa?

Ingin sekali mengucapkan ribuan terima kasih kepadanya. Karena kehadirannya telah mampu membuka pintu hati yang telah lama tertutup rapat ini. Itu artinya Aku sekarang tahu bahwa Aku masih normal sebagai manusia bergender Pria.

Pria normal yang masih memiliki rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Tidak seperti yang kutakutkan sebelumnya, yang tidak ada respon sedikitpun jika harus dekat atau didekati kaum Hawa.

Terima Kasihku Untukmu Yang Telah Menghadirkan Cinta di Hatiku.

"Tak banyak yang aku harapkan,hanya saja izinkan aku untuk mencintaimu dengan caraku.

Kutorehkan tulisan ini,

sekedar mencoba untuk melepaskan beratnya beban otakku yang tak kenal cuti untuk memikirkanmu,

Maafkan aku yang telah lancang mencintaimu!"

Maafkan

0 komentar
Tak hanya dirimu yang diselimuti perasaan sedih, sakit dan juga kecewa. Perasaan sedih, sakit, dan juga lelah itu telah kunikmati setiap harinya. Terlebih lagi, ketika aku harus berpura-pura menutup mata dan telinga melihatnya bercanda tawa dengan yang lainnya. Dan harus Berpura-pura menganggap semuanya seakan baik-baik saja. Sungguh sakit rasanya menjalani ini semua sendirian. Sungguh aku lelah seperti ini dan aku bosan dengan rasa sepi yang menyelimuti diri ini.

Sempat terpikir dalam benakku
"Bolehkah sedikit saja aku meninggikan egoku?"

Sontak hati berkata dengan lantangnya
"Buat apa? Kalau kau hanya ingin membuat hatinya terluka dan bersalah, jika kau kokoh untuk meninggikan egomu. Dan juga karena egomu akan menimbulkan suatu masalah baru yang membuat dirimu dan dirinya akan mengalami kehancuran yang sama."

Dalam sedih, sakit dan terluka diri ini sejenak termenung. Seraya berpikir untuk membuang semua egonya. Karena diri ini tak ingin melihat orang yang dia sayangi merasa terluka dan bersalah hanya dengan mementingkan egonya.

Maafkanlah diri ini, karena sempat membuat hatimu terluka. Dan maaf juga karena sempat terpikir untuk meninggikan ego.
Sekali lagi maaf karena diri ini masih dalam proses menjadi yang lebih baik lagi.


Untukmu yang Namanya Selalu Kusebut Dalam Doa – Aku Ingin Bersamamu Sampai Surga

1 komentar
Hey hey...
Jumpa lagi, semoga hari-hari kita selalu diberkati oleh yang kuasa. Dan semoga hari-hari kita menyenangkan.
Ya sekarang kita membahas tenyang "Cinta" ya meski tak setiap orang mempercayai kata-kata itu, dan mungkin gua juga udah lupa akan perasaan tentang itu :D
Judulnya sesuatu ya tapi ini hanyalah cerita tentang seorang lelaki kulot yang baru hanya beberapa kali mengecap tentang hal ini.
So enjoy...


Katanya, semua manusia baik itu pasti nantinya pergi ke surga. Karena belum pernah menjamahnya, wajar jika aku tak punya gambaran nyata tentang surga. Yang kutahu bahwa setelah jatuh cinta denganmu dunia ini sedang indah-indahnya, dan mungkin sama levelnya dengan keindahan nirwana.

Kusadari bahwa memang manusia tak akan lama-lama menghela udara di bumi, pada akhirnya kita semua pasti mati. Seberapa pun aku dan kamu saling mencintai, kita pasti akan terpisah nanti. Tapi jika kelak saatnya tiba, mungkinkah kau dan aku bisa bertemu lagi di surga?

"Karena Surga pastilah jadi sempurna jika kutemukan kau disana"


Aku tak pernah percaya bahwa cinta benar-benar ada, sampai suatu hari aku menemukanmu yang sanggup membuatku jatuh cinta dan tergila-gila.

Sebelum bertemu denganmu aku tak tahu apa itu cinta. Yang aku kenal hanya sebatas suka dan memuja. Aku suka pada teman sekelasku karena dia anak rajin dan cukup rupawan, aku juga memuja aktor yang sering berlaga di layar kaca. Ah, mungkin aku juga pernah mencecap cinta ala anak remaja satu-dua kali, namun tentu hanya dengan takaran yang tak seberapa. Karena yang kurasa begitu cepat, bahagia dan berbunga yang kemudian berganti dengan tangis karena jalinannya yang terurai dengan begitu mudah. Lucu rasanya, karena sekarang aku sudah lupa bahwa rasa itu pernah ada.


Namun, yang kurasakan denganmu sungguh berbeda. Setiap ada kehadiranmu, napasku pasti sesak tak karuan. Ketuk jantung ini juga bergerak lebih lincah dari biasanya. Kerongkonganku pun dengan tiba-tiba memiliki sumbatannya, yang kemudian disusul dengan kelunya lidah yang tak bisa menyusun frasa dengan benar setiap kamu ada. Namun, tahukah kamu, perpaduan rasa aneh sekaligus nikmat ini ingin kukecap lagi dan lagi.

"Aku rasa aku mulai gila dengan perasaan ini, dan aku pun tak menghiraukan kata orang yang menganggapku seperti itu."
toh yang ngerasain kan gua bukan mereka

Jalinan hubungan denganmu juga kupikir hanya akan sementara. Karena aku tahu, aku dan kamu punya ego yang sama besarnya di kepala.

Dulu, aku tak berani berharap banyak dengan hubungan kita berdua. Mampu menjalin cerita denganmu saja sudah membuatku bahagia luar biasa serta tak hentinya merapal syukur dalam-dalam. Namun, setelah menjalani hubungan beberapa waktu lamanya, aku mulai menyadari bahwa kita punya banyak beda di sana-sini. Bahkan, porsi ego yang memenuhi kepala juga hampir sama ukurannya.


Sungguh, Aku dan kamu yang dibelenggu ego sendiri justru ingin menghancurkan hubungan ini. Hingga akhirnya kita sama-sama lelah dan tak ingin bertemu karena ingin berhenti saling menyakiti. Namun, kita jadi menyadari bahwa hati ini memiliki lubang baru yang lebih menyakitkan diri jika kita tak bersama.

"Meski punya ego yang sama-sama tinggi, aku sadar bahwa aku dan kamu memang tak bisa lama-lama saling menyakiti."

Kamu adalah sosok yang tegar dan bisa diajak berbagi beban. Menghabiskan hidup bersamamu kini jadi mimpi yang ingin kuwujudkan.

Walau diisi dengan saling tengkar toh dalam hati kita tetap ingin saling lekat. Aku dan kamu tetap tak lelah untuk saling mengisi hari supaya rekatan hubungan ini segera pulih. Aku juga jadi memahami bahwa kamu merupakan pribadi yang tegar dan tak menyerah kalah pada keadaan. Di jatuh bangun perjuangan, kamu sedia untuk bisa bangkit dengan tatapan tetap ke depan.


Pun saat beban hidup datang tanpa jeda, kamu tetap tak mudah menuturkan keluhan. Selalu ada hal baik yang bisa kamu lihat dan jadikan pegangan. Jika cobaan hidup yang singgah saja bisa kamu gubah menjadi berkah, apalagi ketika kita sedang merasakan bahagia – pastilah berkali lipat nikmatnya. Sungguh, aku tak hanya terpesona pada parasmu, aku juga menggilai karaktermu yang benar-benar istimewa sebagai seorang manusia.

"Pikirku Kamu memanglah manusia sempurna untuk diajak menghabiskan waktu bersama. Tak salah jika pada akhirnya aku selipkan namamu dalam setiap do'a."

Hubungan kita memang layak diperjuangkan. Tak sekadar modal cinta, aku dan kamu pun harus tahan menghadapi berbagai cobaan.

Aku dan kamu sudah berkali-kali digilas kerasnya dunia dan keadaan. Namun, kita tetap menautkan tangan untuk saling membantu jika ada salah satu yang jatuh terperosok dalam. Pun kita ada untuk saling menangkap jika salah satu tumbang diterpa badai permasalahan. Sungguh, tak ada kamu aku bagai pengelana yang tak memiliki alat penunjuk arah, mudah tersesat dan bisa jatuh ke dalam jurang.

Menjalin hubungan denganmu, aku tak hanya mengecap manis dunia saja. Namun saat kepahitan dunia bertandang, kamu juga tak lantas pergi berjingkat meninggalkan. Saat hati dan raga ini begitu lelah, kamu bersedia kujadikan sandaran. Membuat energiku penuh terisi sehingga siap menghadapi hari, sekali lagi.

"Sungguh, memang tepat rasanya jika aku selalu menambahkan namamu di setiap doa yang kupanjatkan."

Kamu adalah anugerah terindah yang memberiku bahagia di dunia. Tak cukup hidup bersama, aku berharap kelak mendampingimu sampai surga.


Tidak, aku tidak hanya ingin menua bersamamu. Menapaki usia senja hingga kepala tujuh atau delapan rasanya tak seberapa lama untuk kita habiskan berdua. Menyaksikan anak cucu bermain bersama di rumah sepetak yang tak terlalu besar ruangannya atau menyesap teh berdua sambil menikmati pemandangan adalah kenikmatan tak terkira. Namun, aku ingin lebih dari itu. Yang berkecamuk di dadaku bukan hanya cinta. Entah apa namanya, karena yang pasti kata ‘cinta’ saja tak cukup untuk menggambarkannya.

Tak apa jika nanti kita dipisahkan sejenak oleh maut di usia senja. Namun, sungguh-sungguh aku berharap kelak kita bisa bersama lagi di surga. Jadi mari menabung sebanyak-banyaknya kebaikan di dunia sehingga surga untuk aku dan kamu bukan sekadar harapan belaka.

Dan semoga harapan ini tak menjadi bualan semata yang di mimpi-mimpikan oleh lelaki kolot sepertiku, dan kuharap kau tau tentang semua ini. Dari orang yang selalu menyebut namamu disetiap do'anya.

Putih abu-abu

0 komentar
Hai, kawan-kawanku, masihkah kalian mengingat petikan lirik lagu ini? Ya, tembang lawas dari Sheila on 7 yang sempat menjadi iringan di hari perpisahan yang kita buat bersama beberapa tahun silam. Lagu itu juga merupakan obat ketika kenangan akan kalian tiba-tiba melintas di dalam kepalaku dan membuat dadaku terasa sesak dihimpit rindu.


Tahukah kalian, saat ini aku sedang mendengarkan lagu kita sembari menulis surat untuk kalian. Semoga setelah membaca surat dariku ini kalian juga berpikiran sama, ingin meluangkan waktu sejenak untuk bersua demi mengenang kembali kisah klasik kita di masa putih abu-abu.

Sejak kali pertama kita bertemu dan menjalin persahabatan, cerita seru tak pernah alpa terdengar


Ingatkah kalian saat hari pertama kita mengenakan seragam putih abu-abu? Kita yang dulunya mengenakan seragam putih biru dengan label berbeda sekarang mengenakan baju yang serupa. Ya, saat itu kita girang bukan kepalang dan tak henti-hentinya mematut diri di depan kaca. Kita merasa sudah dewasa dan siap menyambut cerita seperti di layar kaya dengan seragam kebanggaan.

Pertemuan pertama kita memang diisi dengan kecanggungan. Kita yang masih murid baru terlihat amat lugu. Lidah ini terasa kelu sehingga hanya mampu melontarkan kata halo yang tidak dibumbui dengan basa-basi. Berawal dari menjadi teman satu kelompok pembekalan murid baru hingga menjadi teman sekelas membuat pertemana kita kian akrab.

Kedekatan pun berlanjut ketika kita berada di kelas yang sama dan memilih bangku yang berdekatan. Kita berbagi cerita dan menertawakan apa saja. Dari sudut kelas, perpustakaan, kantin sekolah, lapangan, hingga aula merupakan saksi bisu kita pernah berbagi cerita hingga rahasia. Selayaknya remaja pada umumnya, kisah kita dipenuhi dengan tawa dan canda, air mata hanya datang menyapa di kala kita putus cinta.

Ingatkah kalian pada kebodohan yang kerap kita lakukan, dan pelanggaran kecil yang iseng dijalankan demi sedikit kesenangan?

Gelegak darah muda memang sedang deras-derasnya mengalir di dalam pembuluh vena. Kita dipenuhi dengan rasa ingin tahu dan mencoba-coba. Ya, kita lebih senang tak patuh pada aturan karena menganggapnya nampak keren karena berlawanan. Tidak jarang ada beberapa dari kita yang harus bermain kucing-kucingan karena mengenakan seragam yang tak sesuai aturan atau karena memiliki rambut kepanjangan dan tidak berwarna hitam.


Aku juga ingat betapa kita girang bukan kepalang sewaktu ada jam pelajaran kosong karena guru yang tak bisa datang. Kita akan memanfaatkannya dengan bermain gitar dan memenuhi udara kelas dengan suara-suara sumbang, atau memilih tidur siang dengan beralaskan kertas ulangan, dan ada pula dari kita yang  lebih gemar kabur ke kantin belakang.

Tidak, tidak hanya itu saja, masih banyak kebodohan dan kenakalan yang kita perbuat demi membuat hari kita kian seru dan berwarna. Aku ingat betapa kita nampak kompak dan bahu-membahu saat menyalin PR pada pukul enam maupun bertukar jawaban saat ujian. Sungguh petualangan yang selalu membuat jantung kita berdetak beberapa ketuk lebih cepat tiap kali kita melakukannya. Bahkan ingatkah kalian saat satu dua kali menjahili guru baru atau mahasiswa yang sedang praktik mengajar? Membuat wajah mereka memerah seperti tomat kematangan sehingga mampu membuat kita tersenyum kegirangan.

Walaupun persahabatan kita pernah berjarak, toh kita selalu menemui jalan pulang untuk kembali menjadi sahabat lekat

Memang segala yang ada di dunia ini tidak ada yang sempurna, begitu pula persahabatan kita. Beberapa kali kita pernah saling mendiamkan dan tak bertukar sapa. Hanya dipicu dengan masalah sederhana mampu membuat kita lebih memilih untuk berpunggung-punggungan.

Meski tentu saja hal itu tak berlangsung lama, karena harus kuakui bahwa aku selalu tak sanggup menjalani hari tanpa kalian. Bagai sayur tanpa bumbu penguat rasa seperti itulah hidupku ketika tidak ada kalian, hambar rasanya. Kalian pun nampaknya juga sama, karena kemudian kita dengan cepat berbaikan dan semuanya baik-baik saja seperti sedia kala.

Maukah kalian meluangkan waktu untuk bertemu lagi dan mengulang keseruan itu? Agar aku bisa menyegarkan ingatanku untuk cerita yang akan kusampaikan kepada anak-cucu.

Terimakasih kuucapkan pada kalian yang telah hadir di dalam hidupku, memenuhi masa mudaku dengan cerita-cerita seru yang mampu mengukir senyum di wajahku hingga detik ini. Maukah kalian menyempatkan waktu supaya kita bisa duduk bersama berbagi cerita? Jika dipikir ulang, betapa lucunya kita, dulu kita selalu rajin berdoa untuk segera meninggalkan masa itu namun sekarang kita mendamba untuk kembali ke masa putih abu-abu.

And than galau lagi

0 komentar

Sudah takdir kita, untuk berjuang hingga habis daya. Karena menyerah begitu saja adalah hal yang keterlaluan mudahnya.

Sungguh, aku lelah jika harus mengurai jalinan ini dan harus menambatkannya ke dermaga yang lainnya. Aku tak sanggup lagi jika harus mencari penggantimu dan memulai hubungan cinta yang baru. Sungguh kita tak boleh lelah berusaha. Kita tak boleh memilih menyerah, karena itu sungguh terlalu mudah.
Jika saat ini kamu begitu dibelit jengah dan ingin beristirahat sejenak, tentu tidak masalah. Kamu boleh mengambil sebanyak apapun waktu yang kamu butuhkan. Aku akan sabar menunggu sembari terus menerus membisikkan harapanku. Dan semoga angin menyampaikan pesanku.

Oh hai hai...

0 komentar
Lama tak menuangkan perihal yang dirasakan disini...

Lama juga tak jumpa buat sharing-sharing pengalaman :😊☺

Gua balik lagi buat menenangkan sejanak hati dan otak disini...
Sorry postingan pertama lansung ngegalau ya gimana lagi, udah sesak ini dada buat nyurahin segenap yang dirasakan yang akhirnya tertumpah dipostingan pertama 😅
Ya cuma disini rasanya gua bisa nyurahin segala yang terasa untuk saat ini...

Sekian dah, mohon maaf dan sampai ketemu lagi dicurahan selanjutnya 😁😂🙋

Surat Untuk Diriku Sendiri yang Sedang Berusaha Memperbaiki Diri

0 komentar
Halo, diriku..
Apa kabarmu saat ini?
Apakah kamu masih sosok yang sama?
Sosok berkepala batu dengan ego yang selalu memenuhi udara?
Semoga saja tidak lagi.

Hai, ini aku, dirimu yang saat ini sedang tidak tenggelam dalam ego. Ya, aku menulis surat ini demi memperbaiki diriku sendiri. Aku ingin membuat kita tak lagi gemar menang sendiri sekaligus mengingatkan bahwa banyak orang di sekitaran yang tanpa kau sadari sudah kau abaikan. Lewat surat ini aku berusaha membantumu untuk tetap berpijak pada bumi dan mampu berbuat kebaikan selagi kamu masih bisa menghela udara.

Walau sering merasa dunia berlaku kurang adil padamu, sesungguhnya di sisi ada orang-orang yang begitu menyayangimu


Mungkin kamu belum menyadari benar bahwa dari sekian milyar manusia yang memenuhi bumi, kamu termasuk dalam golongan yang beruntung. Ya, kamu memiliki ayah, ibu, saudara, bahkan kawan yang selalu ada di sekitaran. Ada sosok ayah yang siap sedia banting tulang memenuhi semua kebutuhan. Ada pula ibu yang merawat dengan penuh kasih dan tak pernah alpa menuturkan wejangan, membuatmu selalu berada dalam jalur yang benar.
Selain orangtua, ada juga sosok saudara yang walaupun menyebalkan namun sebenarnya mereka benar-benar peduli pada keadaanmu. Ah, dan masihkah kamu ingat bahwa kamu selalu memiliki kawan di dalam hidupmu? Para sahabat yang selalu ada untuk berbagi dekap di saat hatimu terbelah menjadi dua. Mereka juga selalu sedia telinga, tak pernah jemu, walaupun kamu selalu mengulang cerita yang sama.

Mereka dengan sabar menerima segala tingkah konyolmu sebagai manusia. Sementara kau justru sering memandang kebaikan mereka sebelah mata


Memang manusia tidak bisa meminta watak apa yang melekat pada dirinya ketika dilahirkan. Begitu pula kamu, kamu memang memiliki karakter keras. Bahkan terkadang orang-orang di sekitarmu harus berlapang dada untuk berhadapan dengan kepala batumu. Sadarkah kamu bahwa egomu selalu memegang kendali dan memenuhi udara?
Ya, kamu sering ingin menang sendiri. Terkadang kamu juga tenggelam ke dalam rasa iri yang sering membuatmu membenci teman tanpa alasan yang jelas. Saat ada beberapa teman yang berhasil meraih penghargaan kamu akan mengucapkan dengan hati setengah dan senyum yang tidak terlalu merekah.
Dipenuhi dengan orang-orang baik hati yang memiliki rasa tulus mencintaimu juga tidak membuatmu merasa lebih baik. Kamu justru merasa bahwa kebaikan yang mereka lakukan merupakan sebuah kewajiban. Sehingga kamu pun lebih gemar mengabaikan. Berpikir bahwa toh usia mereka semua masih panjang dan kamu bisa membalas segala kebaikan mereka kapan-kapan.

Kamu boleh merasa ingin menang sendiri. Tapi bukankah mereka juga punya hati?


Kamu mungkin tidak tahu betapa hati orang di sekitarmu selalu didera rasa sakit tiap kali kamu mengabaikan mereka. Ya, ibumu terluka tiap kali kamu selalu melontarkan alasan tidak bisa pulang ke kampung halaman. Begitu juga ayahmu, beliau kecewa ketika ragamu berada di rumah namun pikiranmu terhisap pada pada layar ponsel.
Tidak hanya mereka, adikmu juga sebal ketika harus menghadapi sifatmu yang selalu kekanakan. Tahukah kamu, di usiamu yang sudah menginjak kepala dua ini harusnya kamu bisa menjadi contoh panutan? Ya, tidak seharusnya kamu ingin menang sendiri dan mengharuskan setiap orang menuruti segala keinginan.
Belum lagi ketika kamu justru mengabaikan sahabat-sahabat yang sudah begitu baiknya hadir di dalam hidupmu. Kamu sengaja mengaku sedang sibuk dan enggan menghabiskan waktu ketika mereka butuh kehadiranmu. Kamu lebih menikmati ketika mereka bisa diajak berbagi suka. Namun saat mereka ingin sedikit membagi duka, kamu langsung menyibukkan diri.

Maukah sekarang kau sedikit melunakkan kerasnya kepala? “Selamanya” bukan bilangan waktu yang sah di dunia. Kau peru berubah sebelum penyesalan menyapa


Kamu hanya diberi kehidupan sekali ini saja. Bertemu dengan orang-orang yang selalu membuat hatimu bahagia juga tidak selamanya. Ya, kamu tidak tahu kapan masa mereka di dunia akan habis, kamu bahkan juga tidak tahu kapan kontrakmu di bumi akan disudahi.
Jadi, sebelum segalanya terlambat dan kamu dilumat penyesalan, maukah kamu berbesar hati melunakkan kerasnya kepalamu? Maukah kamu tak lagi mengabaikan mereka yang selalu berbuat baik padamu? Sebelum kamu tak lagi memiliki kesempatan. Berbagi kasihlah kepada ayah, ibu, saudara, serta kawan-kawanmu yang selama ini ada untukmu. Kamu tidak akan merugi, justru perasaan gembiralah yang akan memenuhi hati.
Mulai sekarang berjanjilah kepada diri sendiri bahwa kamu tidak akan mengulang kesalahan yang sama demi kebahagiaan yang akan kamu petik di masa depan.