Pengunjung

Pemeran Pembantu

Sebagai mana yang kita tahu pemeran pembantu merupakan pemeran yang memiliki peran yang tidak penting dalam sebuah cerita dan tokoh ini hanya dipilih sebagai penunjang pemeran utama.


Inilah peranan yang diriku jalani didalam ceritamu. Walaupun diriku tahu peran seperti apa yang kujalani dalam ceritamu tetap saja kujalani. Hanya sekedar ingin tahu apakah pemeran pembantu bisa naik kasta menjadi pemeran utama? Mungkin tidak pikirku, tapi apa salahnya mencoba hal yang dianggap mustahil bukan? Karena dalam hidup kalau belum dicoba kita belum tahu akan hasilnya.

Kau tahu seberapa tegar dan sabarnya diriku menjalani peranan ini? Ku rasa tidak karena kau hanya memikirkan supaya kisahmu dengannya baik-baik saja. Padahal pemeran pembantu juga punya hati loh... Tapi kau tak pernah memahami hal itu. Kau hanya menganggap pemeran pembantu tidak akan mengetahui kisahmu dengan dirinya yang lebih dulu ada dalam ceritamu. Padahal pemeran pembantu sebenarnya telah mengetahui sejak awal.


Kau boleh bermain dengan rasa dan prasa.

Yang memungkinkan alurnya terurai atau terikat. Kalau soal logika biarkan diri ini yang mengartikan. Soal lara dan duka biar diri ini yang menikmati. Kau cukup bersenang-senang saja dengan ceritamu dengan dirinya, jikalau kau bosan mendekatlah kepada pemeran pembantu ini. Itu yang sedari awal ku tanamkan dalam hatiku.

Terkadang orang bilang bodohnya diriku, memang bodoh tapi karena lupa diri dengan perasaan nyaman yang diberi dan menikmati setiap kisah yang ku jalani bersamamu sampai aku lupa bahwasanya diriku hanya pengganti dikala dirinya tak ada. Padahal telah kucurahkan semua harapanku kepadamu, tapi diriku tak pernah mendapatkan jawaban atas semua harapan yang diriku ucapkan kala itu. Semua harapan itu hanya kau anggap sebagai gurauan semata, ingin rasanya diriku mengeluarkan semua yang membakar isi kepala kepada dirimu tapi tetap saja hati berbisik untuk tetap bersabar.

Tahukah kau bagaimana rasanya menjalani peran yang seperti itu? Diriku rasa tidak, karena yang kau tahu hanyalah bagaimana dimengerti tapi tak pernah memahami.

Coba sejenak kau berada di peran yang sedang diriku jalani, sanggup dan kuat kah dirimu? Menjalani hari-hari dengan berpura-pura menutup mata dan telinga saat kau bersama dengannya. Dan berpura-pura tidak tahu tentang alur cerita yang kau tulis.

Perasaan lelah, sakit dan kecewa adalah makanan setiap harinya bagi diriku, hanya dengan melakoni peran yang kau tuntut kan kepadaku. Coba sedikit saja kau memahami apa yang telah ku lewati dalam menjalani ceritamu mungkin aku akan lebih bersabar dan bertahan dalam menjalani kisah itu. 

Tapi karena setiap kali masalah datang kau hanya mengucapkan satu kata "aku ikhlas kau dengan yang lain". Dirimu memang ikhlas dan rela karena masih ada dia yang bisa menemanimu disaat aku tak ada lagi diceritamu. Lantas diriku harus mengulang kembali dengan sebuah pendekatan baru dengan cerita yang baru. Asal kau tahu bahwa memulai sesuatu yang baru itu terasa sangatlah sukar, karena harus menyelami karakter baru lagi.

Setelah beberapa lama menjalani kisah ini, sudah banyak badai yang telah kita lalui, seakan badai tak pernah hilang dalam setiap perjalananku bersama dirimu. Karena badai yang tak kunjung henti itulah sempat diri ini berfikir untuk menanyakan sesuatu padamu "Aku ini siapa?" "Dihatimu aku ini siapa?" Andai dihari itu aku berani menanyakannya, mungkin aku takkan tenggelam dalam ketidakpastian. Mungkin aku takkan menunggu hal yang tidak memiliki tujuan ini. Tapi sontak diripun sadar jika aku menanyakan hal tersebut mungkin akan menjadi badai baru yang akan menghancurkan apa yang selama ini dibangun.


Hingga badai selanjutnya datang dimana aku merasa sangat cemburu terhadap seseorang. Sempat aku mendiamkan dirimu beberapa saat hingga moodmu berubah, sontak akupun menurunkan egoku dan mendekatimu untuk mengembalikan lagi mood dirimu seperti semula. Tapi semua usahaku kau abaikan begitu saja hingga diriku dirasuki emosi yang begitu besar. Hingga malam tiba, dering poselpun berbunyi tanda pesan masuk darimu yang menanyakan "ada apa?", aku pun mengetik pesan padamu "Aku cemburu" tapi dalam keadaan masih emosi yang sama. Dari percakapan nan panjang terlontar oleh mu pesan yang membuat emosiku makin menggebu "segitukah sayangmu terhadapku" bunyi pesan yang kau kirim saat itu. Hingga membuat hati ini merasakan sakit yang tak karuan. Dalam hatiku hanya bisa tertawa dan berkata " hanya segitu?", tak terpikirkan oleh mu sedikit saja bagaimana peran yang telah kulalui selama ini? Dan dengan mudahnya kau katakan sebatas itu rasa sayangku? Ingin sekali hari itu aku mengucapkan kata yang tak seharusnya terucap, karena harapanku yang begitu besar telah kuberikan semua kepadamu.

Maaf bukannya diriku bermaksud ingin mengubah alur dalam ceritamu dan bukan juga ingin merusak kisahmu dengannya, tapi karena semua harapanku membuat ku ingin mengubah semua alur dalam ceritamu menjadi apa yang aku impikan dalam ceritaku sendiri. Dimana tak ada dirinya, hanya ada diriku dan dirimu.

Dan karena harapan itu lah terlontar ucapku dikala badai terakhir yang menerpa kita. Diriku menuntut sebuah kejelasan yang selalu kutahan karena tak ingin merusak apa yang telah kita jalani. kala itu aku bertanya seserius apakah dirimu terhadapku? Dan jika dirimu memang serius kenapa tak pernah ada sedikitpun kejujuran tentang dirinya yang keluar dari mulutmu? Kenapa dirimu hanya ingin menjalani setiap kisah denganku tanpa aku tahu apa-apa tentang dirinya? Yang akhirnya membuat kita saling mengadu ego kita masing-masing. Dan kata ingin saling menghilang dari kehidupan masing-masing pun terucap kala itu. Memang benar apa yang telah dikatakan orang dimana ego dilawan dengan ego, maka perpisahanlah yang akan jadi pemenangnya.

Jelang beberapa hari setelah kata ingin menghilang terucap, diriku ingin sekali memperbaiki semua yang telah terjadi kala itu. Tapi yang ku dapat hanyalah rasa tak dianggap, sungguh rasanya memilukan. Sekeras apapun aku berusaha dan bersabar tetap yang ku dapat hanya perasaan yang tak dianggap.

Dan sekarang mungkin kau tak perlu menjawab tentang semua hatapan yang telah ku uraikan kepadamu dulu. Diriku telah memahaminya. Maaf,mungkin kata maaf dariku belum cukup bagi dirimu tapi hanya itu yang bisa ku ucapkan kepadamu. Aku berharap kau tak perlu lagi berfikir untuk menjawab semua harapan yang telah ku ungkapkan kepadamu, cukup kau jalani saja kisahmu seperti sedia kalanya. Dan aku berharap semoga kisah yang kau tulis ini menjadi kisah yang sangat kau mimpi-mimpikan. Aamiin....

Dan akupun sudah paham akan peranku dalam ceritamu. Jika kau ingin melepas tak apa, karena kupikir mungkin peran yang kau berikan padaku dalam ceritamu telah usai. Maaf karena tidak sempat jujur dari awal menjalani kisah ini, bahwasanya diriku telah mengetahui semuanya dan membiarkannya berjalan begitu saja. Bukannya bermaksud mengubah dan menghancurkan ceritamu hanya saja diriku hanya ingin melihat kesungguhan dan kejujuran mu terhadap diriku dan apakah peranan ku bisa berubah nantinya dalam ceritamu. Ternyata harapan dan anganku terlalu tinggi untuk hal itu.

Tak tahu alasan apa yang ingin kau pendam terhadap diriku hingga dibadai terakhir pun tak ada sedikitpun kejujuran yang terucap dari dirimu. Pikirku cuma mengatakan mungkin aku akan merasakan kekecewaan jika kau jujur terhadap kisah dan tentang dirinya kepadaku.

Jika akhirnya nanti kau bertemu dengannya tolong jaga dia dan sampaikan padanya tolong jaga dirimu baik-baik, jangan pernah sekalipun ia mengecewakan dirimu dan jangan biarkan dirimu menunggu begitu lama. Karena kau sangat menginginkan kebahagian yang lebih darinya dan menahan kerinduan ingin berjumpa yang begitu lama kau pendam. Saranku jauhilah orang-orang yang ingin merusak hubunganmu dengannya. Mungkin aku tahu alasanmu untuk mendekati yang lainnya, tapi ingat dirinya juga punya perasaan dan juga pasti akan terluka jika melihatmu lebih dekat dengan yang lain ketimbang dirinya.

Maaf hanya do'a bahagia yang bisa ku kirimkan kepadamu yang telah mengisi kosongnya hatiku, walau hanya sebagai pengganti dirinya yang kau tunggu untuk kembali. Semoga kau dan dia cepat dipertemukan, karena rindu yang kau tahan cukup lama kepada dirinya dan semoga dia cepat meminangmu.

Terimakasih telah mau menjalani hari-hari bersamaku walau hanya sesaat, tapi sangat mengingat dalam benakku. Dan maaf karena sempat menoreh luka dan memberi kecewa selama menjalani kisah bersamaku.

Sekali lagi maaf dan terimakasih.

Aku pamit, Berbahagialah dengannya.

Dari aku yang sangat menginginkanmu menjadi pendamping hidupku.

1 komentar:

Andika Prameswara mengatakan...

Jangan lupa di comment